UKM Indonesia

​Seluk Beluk Persiapan Untuk Mengundang Investor Ekuitas (Online dan Offline)


Pembiayaan merupakan sebuah aspek penting dalam mendorong tumbuh kembang usaha. Dengan mendapatkan sebuah pembiayaan, sebuah usaha dapat melakukan investasi asset tetap seperti pembelian mesin dan tempat usaha dalam meningkatkan skala usaha.

Usaha tersebut juga dapat digunakan untuk melakukan investasi modal kerja sebeli membeli bahan baku tambahan yang juga dapat digunakan untuk meningkatkan skala usaha. Dengan peran tersebut, pembiayaan menjadi sebuah hal penting untuk meningkatkan skala usaha.

Pembiayaan sendiri dapat dibagi menjadi dua, yaitu pembiayaan berbasis utang dan ekuitas. Pembiayaan utang cenderung akan lebih murah bagi sebuah usaha karena tidak perlu memberikan persentase kepemilikan kepada para pemberi utang, sedangkan pada pembiayaan berbasis ekuitas, sahabat wirausaha perlu membagi kepemilikan terhadap investor tersebut.

Meskipun begitu, pembiayaan ekuitas memiliki sebuah peran penting dalam mengkonfirmasi kualitas dari sebuah bisnis. Apabila sebuah bisnis telah memiliki investor berbasis ekuitas, maka bisnis tersebut kemungkinan memiliki kualitas yang baik. Hal ini dikarenakan investor tidak akan mau menanggung resiko apabila bisnis tersebut memiliki kualitas yang tidak baik.

Baca Juga: Tips Memulai Bisnis Dengan Modal Minim

Dengan pentingnya peran tersebut, pembiayaan ekuitas menjadi sebuah hal yang patut didapatkan dalam menjalankan sebuah bisnis. Sahabat wirausaha sendiri tidak dapat serta merta bertemu dengan para investor tanpa mempersiapkan apa pun. Pada kesempatan kali ini, sahabat wirausaha dapat mengetahui tahapan yang diperlukan sebelum bertemu dan mencoba mendapatkan investor ekuitas.


Menganalisis Kebutuhan Pembiayaan

Sebelum berbicara mengenai pembiayaan, sahabat wirausaha harus terlebih dahulu mampu untuk mengidentifikasi lebih lanjut mengenai tahapan bisnsi yang dijalani. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pembiayaan memiliki peran penting dalam mendorong usaha untuk meningkatkan skalanya.

Peningkatan skala ini baru bisa dilakukan apabila sahabat bisnis tersebut telah mencapai batasan pada kapasitas saat ini. Hal ini sendiri dapat dilihat dari tingkat penjualan yang dilakukan.

Baca Juga: Apa itu Ekuitas?

Sebagai contoh, Pak Aryo selaku penjual pempek beku mendapatkan kesempatan pembiayaan sebesar seratus juta rupiah. Dengan angka tersebut, Pak Aryo dapat membeli penggorengan dan kompor tambahan serta mesin pendingin yang lebih banyak sehingga produksinya yang tadinya hanya lima ratus kemasan per hari dapat bertambah menjadi seribu kemasan per hari. Pada awalnya, Pak Aryo sangat antusias dengan pembiayaan tersebut.

Namun, salah satu kerabat beliau memberi masukan kepada beliau unutk menolak opsi pembiayaan tersebut. Beliau menjelaskan kepada Pak Aryo bahwa saat ini penjualan produknya hanya mencapai dua ratus kemasan per hari. Meningkatkan penjualan dari dua ratus ke lima ratus per hari bukanlah sebuah hal yang mudah.

Pak Aryo membutuhkan pemasaran yang masif dimana hal tersebut juga membutuhkan biaya tambahan. Dengan kondisi tersebut, dikhatiwarkan produksi yang terlalu banyak justru tidak akan mampu terjual dengan baik.

Tidak hanya itu, kompor dan mesin pendingin dengan kapasitas yang lebih besar juga biasanya membutuhkan biaya perawatan dan penggunaan, seperti listri, yang lebih besar. Hal ini yang kemudian membuat tidak adanya urgensi pembiayaan bagi Pak Aryo.

Baca Juga: Cara Menghitung Ekuitas

Kasus tersebut merupakan sebuah contoh bagaimana sebuah bisnis harus terlebih dahulu berada pada sebuah tahapan dimana pembiayaan dapat mendorong mereka untuk tumbuh. Apabila belum berada pada tahapan tersebut, pembiayaan hanya akan menambah beban baru terhadap bisnis.

Dalam menentukan urgenis tersebut, sahabat wiarausaha harus mampu menyusun sebuah rencana bisnis. Hal inilah yang kemudian menjadikan penyusunan rencana bisnis sebagai tahapan pertama dalam persiapan mencari investor ekuitas. Rencana bisnis akan memberikan pemahaman yang baik mengenai urgensi dari pembiayaan yang ingin didapatkan. Hal ini juga yang akan dinilai oleh investor ekuitas dimana mereka akan mencari pelaku bisnis yang memiliki urgensi untuk mendapatkan pembiayaan yang tepat.

Perlu dipahami, investor memiki pemahaman yang baik mengenai sebuah bisnis dan kewirausahaan. Apabila sahabat wirausaha tidak memiliki pemahaman yang cukup baik terhadap bisnisnya sendiri, para investor akan menyadari hal tersebut. Dengan menyusun rencana bisnis yang baik, sahabat wirausaha dapat memastikan bahwa hal tersebut tidak terjadi.

Baca Juga: Pengertian Modal Ventura


Menyusun Rencana Bisnis Internal

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, sahabat wirausaha perlu menyusun sebuah rencana bisnis yang dapat menggambarkan tahapan usaha yang sedang dijalani. Penyusunan ini sendiri sebenarnya memliki berbagai pendapatan yang berbeda untuk setiap bisnis. Akan tetapi, sahabat wirasuaha dapat melakukan penyesuaian terhadap tahapan umum yang ada.

Berdasarkan buku Strategic Management yang ditulis oleh Fred R. David (2020), tahapan pertama dan paling utama dalam mendefinisikan rencana bisnis adalah menentukan tujuan. Sahabat wirausaha dapat mendefinisikan secara lebih detail, bisnis seperti apa yang akan coba dihasilkan dari usaha yang dimiliki. Sahabat wirausaha juga dapat memasukkan dampak dari bisnis tersebut dalam tujuan usaha.

Baca Juga: Pitch Deck Untuk Mengakses Modal Ekuitas

Sebagai contoh pada perusahaan Coca Cola, mereka memiliki tujuan “refresh the world, make difference.” yang berarti menyegarkan dunia dan membuat perbedaan. Hal ini sejalan bagi produk-produk Coca Cola yang mayoritas didominasi oleh makanan dan minuman yang dapat dikaitkan dengan kata segar. Selain itu beberapa produk Coca Cola juga mungkin memiliki rasa dan konsep yang unik seperti minuman bersoda yang merupakan produk utama mereka.

Sahabat wirusaha sendiri dapat mendefinisikan sebuah tujuan yang lebih spesifik. Pada kasus Coca Cola, tujuan bisnisnya dapat dikatakan bersifat umum karena cakupan produknya yang sudah cukup luas. Sedangkan apabila sahabat wirausaha memiliki cakupan bisnis yang masih memiliki keterbatasan jumlah produk, maka sahabat wirausaha dapat mendefinisikan tujuan yang lebih spesifik.

Baca Juga: Pengertian Modal Ventura

Sebagai contoh, pada kasus Pak Aryo sebelumnya, beliau dapat menyusun sebuah tujuan sebagai berikut “Karena Indonesia dapat bahagia dengan praktis bersama Pempek Ampera”. Kalimat tersebut dapat bersifat lebih spesifik dengan menyebutkan kedua kata kunci beserta produk yang akan diproduksi.

Dengan tujuan tersebut, Pak Aryo yang memberi nama produknya sebagai Pempek Ampera, ingin menghasilkan sebuah produk yang menghasilkan kebahagiaan tetapi juga praktis.

Tujuan ini secara tidak langsung menyatakan bahwa beliau ingin membuat sebuah produk pempek beku yang praktis tetapi juga enak sehingga menghasilkan kebahagiaan. Selain itu, kalimat Indonesia di sini menggambarkan target pencapaian yang ingin disentuh oleh Pak Aryo. Hal ini selaras dengan contoh pada Coca Cola dimana mereka secara tidak langsung menargetkan target internasional dengan skala mereka yang sudah besar.

Baca Juga: Apa itu Angel Investor?

Setelah mendefinsikan tujuan, Sahabat Wirausaha harus mulai menurunkan tujuan tersebut terhadap target-target pencapaian yang diperlukan. Target pencapaian ini diberikan sebagai indikator kesuksesan dari sebuah kegiatan bisnis.

Dalam banyak kasus, target pencapaian ini sebaiknya sesuatu yang dapat diukur dengan cukup baik seperti target penjualan. Hal ini dikarenakan target penjualan dapat diukur dengan mudah dan dapat menjadi acuan dari kesiapan sebuah bisnis untuk meningkatkan skala usaha mereka.

Dalam kasus Pak Aryo, penentuan target penjualan tersebut dapat dilakukan dengan membandingkan jumlah segmen pasar yang ada. Sebagai contoh, dalam mencapai tujuan menjadikan Pempek Ampera sebagai produk yang dapat dinikmati warga Indonesia, Pak Aryo percaya bahwa produknya harus mampu terjual sebanyak satu juta kemasan per hari. Hal ini berdasarkan data yang beliau kumpulkan bahwa angka tersebut merupakan jumlah terbanyak masyarakat yang dapat membeli sebuah produk makanan daerah dalam satu hari.

Baca Juga: Manfaat dan Kebijakan Pemberdayaan Perempuan Bagi Usaha

Setelah menentukan besaran satu juta per hari, Pak Aryo kemudian menentukan tahapan bagi bisnisnya. Pak Aryo kemudian membagi tahapan penjualan produknya menjadi lima tahap. Tahap penjualan sampai seratus kemasan, seribu kemasan, seratus ribu kemasan, tiga ratus ribu kemasan hingga satu juta kemasan.

Pada setiap tahapan tersebut, Pak Aryo kemudian menulis hal apa yang perlu dilakukan dan target pasar mana saja yang akan perlu didekati pada setiap pencapaian. Hal ini membantu Pak Aryo untuk kemudian melihat kebutuhan usaha seperti apa yang perlu dipenuhi untuk setiap tahapan yang ada.

Selanjutnya, Sahabat Wirausaha perlu mendetailkan setiap target pemasaran yang ada. Sebagai contoh, sahabat wirusaha harus mampu menyebutkan beberapa target swalayan yang ingin dimasuki oleh produk usaha. Sahabat Wirausaha dapat kemudian menganalisis faktor apa saja yang kemudian dibutuhkan untuk mendorong produk agar dapat diterima di pasar swalayan tersebut.

Baca Juga: Apa itu Izin Edar?

Beberapa swalayan, misalnya, akan meminta produk usaha agar didaftarkan terlebih dahulu ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dalam menjawab permintaan tersebut, sahabat wirausaha juga pasti memerlukan biaya tambahan dalam mendukung operasional usaha yang sesuai dengan standar BPOM. Hal tersebut merupakan salah satu contoh. Sahabat wirausaha sendiri perlu mendefinisikan satu per satu kebutuhan yang muncul dalam memenuhi target pemasaran.

Pada sisi lain, sahabat wirausaha juga harus melihat bagaimana kegiatan produksi dapat memenuhi permintaan dari pasar. Apabila pada sahabat wirausaha ingin meningkatkan penjualan, maka kegiatan produksi juga perlu ditingkatkan skalanya. Dalam peningkatan skala tersebut, sahabat wirausaha harus mampu mendata dengan baik kebutuhan apa saja yang kemudian diperlukan untuk memproduksi lebih baik.

Sebagai contoh, diperlukan peningkatan skala produksi yang tadinya hanya menggunakan lokasi rumah ke lokasi terpisah. Keperluan ini yang kemudian dapat dihitung dan dimasukkan ke dalam rencana bisnis sebagai keperluan dalam meningkatkan skala usaha.

Baca Juga: Hal yang UMKM Wajib Tahu Tentang Perizinan Usaha Berbasis Risiko

Aspek dan biaya yang muncul dari rencana bisnis tersebutlah yang kemudian menjadi rencana pembiayaan yang dananya bisa didapatkan dari investor ekuitas. Dengan rencana bisnis tersebut, Sahabat Wirausaha akan lebih memahami usaha yang dimiliki dan hal tersebut merupakan modal penting sebelum menemui investor ekuitas.


Membuat Pitch Deck Usaha

Setelah membuat rencana usaha, Sahabat Wirausaha juga perlu membuat sebuah media presentasi yang sering disebut sebagai pitch deck. Pitch deck adalah rangkaian kata dan gambar untuk mengilustrasikan kisah dan model bisnis. Pitch deck tidak hanya dapat digunakan untuk mendapatkan pendanaan saja, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mencari karyawan, konsumen, partner hingga pemasok. Pitch Deck menjadi sangat vital karena perannya dalam memberikan gambaran usaha, termasuk visi, tim, model bisnis hingga kelebihan dari produk.

Baca Juga: Lima Alasan Kenapa Budaya Inovasi Penting Bagi UMKM

Apabila telah membuat rencana bisnis sebelumnya, sahabat wirausaha tidak perlu terlalu sulit menyusun pitch deck dari awal. Beberapa komponen dari rencana usaha dapat digunakan untuk mengisi bagian utama dari pitch deck itu sendiri.

Bagian tersebut mencakup detail kebutuhan dana, prospek usaha, sumber dana dan banyak hal lainnya. Hal ini dikarenakan rencana bisnis dan pitch deck sebenarnya memiliki komponen yang sama. Perbedaan diantaranya hanyalah terletak pada kegunaannya. Apabila rencana usaha digunakan sebagai alat analisis dan panduan internal, pitch deck adalah sebuah perangkat presentasi mengenai rencana tersebut kepada pihak eksternal.

Pembuatan pitch deck sendiri tidak akan dibahas terlalu jauh dalam kesempatan kali ini. Sahabat wirausaha dapat menemukan penjelasan lebih lanjut mengenai pitch deck pada artikel khusus di ukmindonesia.id.


Bertemu dengan Investor Ekuitas

Tahap akhir dari semua pembahasan yang telah disusun sebelumnya adalah bertemu dengan investor ekuitas sendiri. Perlu dipahami bahwa bertemu dengan para investor ekuitas bukan sebuah yang mudah dilakukan. Mereka biasanya merupakan individu yang memiliki kesibukan dan tidak mudah untuk ditemui. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengikuti beberapa kegiatan inkubator bisnis.

Baca Juga: Melirik Peluang Bisnis di Sektor Pertanian Lewat Inovasi

Para inkubator bisnis biasanya memiliki agenda untuk mempertemukan para pelaku usaha dan juga para investor. Pada momen pertemuan tersebut, sahabat wirausaha harus memberikan penampilan sebaik mungkin untuk menekankan bahwa bisnis yang dijalankan menjanjikan. Penampilan yang baik tersebut mencakup pakaian, bahan presentasi, metode presentasi hingga simulasi produk jika memungkinkan.

Selain bertemu melalui para inkubator bisnis, sahabat wirausaha juga dapat mengatur jadwal untuk bertemu langsung apabila telah mengenal dengan cukup baik calon investor tersebut. Dalam kasus ini, sahabat wirausaha juga perlu mempersiapkan penampilan terbaik.

Satu hal yang perlu dipastikan juga jika mengundang langsung para investor ekuitas adalah menyediakan tempat yang layak. Apabila lokasi usaha tidak memungkinkan untuk melakukan presentasi dengan baik, sahabat wirausaha harus menyewa atau meminjam tempat yang baik untuk melakukan presentasi.

Baca Juga: Peluang Pasar Apparel

Pertemuan juga dapat dilakukan melalui media online. Perbedaannya jika dilakukan secara online, sahabat wirausaha perlu memastikan ketersediaan jaringan internet dengan cukup baik. Selain itu, tantangan lainnya adalah kemampuan untuk mengoperasikan media pertemuan yang digunakan, seperti Zoom, Google Meet dan lainnya dengan baik. Apabila dapat mengoperasikannya dengan baik, Sahabat Wirausaha dapat memberikan presentasi yang lebih maksimal.

Nah, itulah beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mencari para investor ekuitas. Seperti dalam melakukan banyak hal, sahabat wirausaha harus memulai persiapan dari internal usaha terlebih dahulu. Penampilan yang baik tanpa persiapan internal yang matang tidak akan mampu menarik perhatian para investor. Selamat mencoba, Sahabat Wirausaha.

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Sukai postingan ini:
KOMENTAR
Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: