Industri kopi lokal mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam beberapa tahun belakangan. Sebelumnya, Indonesia hanya lekat dengan warung-warung kopi kecil yang menjajakan kopi seduh sachet. Penikmatnya pun kebanyakan adalah orang-orang paruh baya. Hal ini berubah drastis sejak gerai-gerai kopi yang mengusung konsep tempat nongkrong sederhana mulai bermunculan di kota-kota besar.

Tak seperti warkop pinggir jalan, mereka berani menyajikan olahan kopi lokal yang tak kalah enak dengan kafe-kafe kopi besar seperti Starbucks dan The Coffee Bean. Alhasil, konsep ini sukses menarik pelanggan dari berbagai kalangan, terutama kaum muda yang sedang penat dengan kuliah ataupun tekanan pekerjaan.

Melihat fenomena ini, tentu industri UKM juga harus jeli dan berani mengambil kesempatan. Sebenarnya, seberapa besar peluang bisnis di industri kopi saat ini? Dan bagaimana prediksi keberlanjutannya di masa depan?

Baca Juga: Tips Memulai Bisnis Kedai Kopi


Budaya Nongkrong, Awal Bangkitnya Olahan Kopi Lokal

Mulanya, kebanyakan orang mengira olahan kopi enak hanya bisa dinikmati di gerai-gerai kopi impor yang membandrol harga kelewat mahal. Padahal, produk mereka pun diolah dari biji-biji kopi lokal. Sekitar tahun 2015, pola pikir ini mulai bergeser.

Pebisnis kopi lokal melakukan gebrakan dengan mendirikan kedai-kedai kopi sederhana, menyajikan olahan kopi Nusantara dengan meminjam konsep dan kemasan gerai luar negeri. Hasilnya di luar dugaan. Konsumsi kopi nasional mengalami lonjakan drastis.

Gambar 1. Data Konsumsi Kopi Nasional Tahun 2000 – 2016

C:\Users\Public\Videos\Downloads\berapa-konsumsi-kopi-indonesia-by-katadata.png

Sumber : Databooks oleh Katadata.com

Dilansir dari Databooks milik katadata.com, International Coffee Organization mencatat bahwa di awal dekade 2000-an, konsumsi kopi Indonesia hanya berada di angka 2 juta kantong per tahunnya dengan jumlah 60 kg per kantong. Di tahun 2016, jumlah ini berlipat ganda menjadi 4,6 juta kantong per tahun. Tren positif konsumsi kopi nasional terus berlanjut.

Baca Juga: Membangkitkan Bisnis Kopi Lewat Jaringan Warkop Nusantara

Masih berdasarkan sumber yang sama, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian mencatat konsumsi kopi nasional mencapai sekitar 250 ribu ton dan tumbuh 10,54% menjadi 276 ribu ton. Sepanjang periode 2016 – 2021, konsumsi kopi Indonesia diprediski tumbuh dengan rata-rata 8,22% per tahun.

Pada tahun 2012 sendiri, pasokan kopi lokal diprediksi mencapai 795 ribu ton dengan konsumsi sebanyak 370 ribu ton. Kenaikan ini terhitung sangat signifikan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Gambar 2. Data Konsumsi Kopi Nasional Tahun 2016 - 2017

C:\Users\Public\Videos\Downloads\2021-konsumsi-kopi-indonesia-diprediksi-mencapai-370-ribu-ton-by-katadata.png

Sumber : Kementerian Pertanian (2018) melalui Databooks milik Katadata.com

Saat ini sudah merupakan hal yang lumrah melihat gerai kopi lokal sesak dengan pelanggan. Jumlah kedai pun makin menjamur. Dilansir dari voi.id, berdasarkan hasil riset TOFFIN—perusahaan penyedia solusi bisnis barang dan jasa di industri HOREKA—jumlah kedai kopi di Indonesia pada bulan Agustus 2019 sudah mencapai lebih dari 2.950 gerai.

Hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun 2016 yang hanya mencapai 1000 gerai. Angka ini akan semakin besar jika turut memperhitungkan kedai-kedai kopi independen di berbagai daerah. Apa rahasianya?

Baca Juga: Bale Kopi Gucialit : Menabung Kopi Demi Kesejahteraan Petani

Selain mengusung sajian kopi lokal nikmat yang membuat pelanggan merasa lebih nasionalis, mereka juga mendesain gerai kopi sebagai tempat yang nyaman untuk kongkow bagi semua orang. Pada kenyataannya, warung dan kedai kopi masa kini tidak hanya menjual produk kopi melainkan experience minum kopinya di tempat masing-masing.

Mindset-nya adalah yang kita jual itu ngopi, dan bukan kopi,” papar Setya Yudha Indraswara, Founder Jaringan Warkop Nusantara yang punya andil besar dalam membangkitkan sektor warung dan kedai kopi di Indonesia.

Suasana dan tempat yang nyaman untuk ngobrol sembari menyesap segelas kopi inilah yang dinikmati oleh para penggemar kopi Nusantara. Pendeknya, mereka menelurkan konsep yang turut melanggengkan budaya ngopi yang memang sudah mengakar di masyarakat Indonesia.

Tak hanya itu, faktor lain kesuksesan kedai kopi lokal juga meliputi hadirnya media sosial yang memudahkan pemasaran produk mereka secara digital. Kanal online delivery seperti GoFood dan GrabFood pun mendukung proses penjualan yang kebanyakan didominasi pesan-antar.

Pada akhir tahun 2019, Tirto.id memberitakan nilai pasar bisnis kopi Indonesia mencapai 4,8 triliun per tahunnya. Dan angka ini diperkirakan akan terus menanjak di tahun-tahun berikutnya.


Inovasi Kedai Kopi Masa Kini

Kesuksesan industri kopi Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada marketing dan promosi sosial media yang apik. Tren ini bisa awet lantaran pebisnis kopi tidak pernah kehabisan ide untuk terus mengembangkan produk mereka. Inovasi paling anyar yang masih bertahan hingga sekarang adalah es kopi susu gula aren.

Dipopulerkan pertama kali oleh Toko Kopi TUKU pada tahun 2016, menu ini dibuat dari resep sederhana berupa campuran kopi, susu UHT, dan gula aren. Mereka menamainya “Es Kopi Susu Tetangga” dan mengemasnya dalam sebuah gelas plastik yang disegel sehingga mudah dibawa dan bisa diminum di mana saja. Konsep ini kemudian ramai-ramai diadaptasi oleh kedai kopi lainnya, seperti Kopi Janji Jiwa, Kopi Kenangan, dan puluhan gerai lain yang turut menyediakan menu tersebut.

Baca Juga: Peluang Pasar: Kedai Kopi

Kepopulerannya tidak bisa dianggap remeh. Salah satu pengadaptasi kopi susu gula aren, Kopi Kenangan, tercatat mengamankan investasi besar di akhir tahun 2019. Dilansir dari katadata.com, brand ini mendapat suntikan dana seri A sebesar 20 juta dollar Amerika oleh perusahaan modal ventura Sequoia Capital India. Tidak main-main, sejumlah nama besar seperti petenis Serena Williams dan rapper kawakan Jay-Z turut terlibat dalam investasi tersebut.

Gambar 3. Tabel Perbandingan Pendanaan Bisnis Kopi Kenangan Tahun 2018 dan 2019

C:\Users\Public\Videos\Downloads\kopi-kenangan-bukukan-pendanaan-us-20-juta-pada-2019-by-katadata (1).png

Sumber : Databooks milik Katadata.com


Geliat Usaha Roastery di Rantai Pasokan Kopi

Kopi yang nikmat tidak datang dari proses yang instan. Coffee roastery, yang merupakan tempat di mana biji kopi disangrai, bertugas sebagai penjaga kualitas olahan kopi lokal. Dilansir dari Kompas.com, Joni Lima, Co-Founder dari roastery Smoking Barrels Craft Coffee, mengatakan bahwa model bisnis ini lebih fokus pada Business to Business (B2B). Mereka menyasar penjualan produk kepada coffee shop yang membutuhkan biji kopi olahan berkualitas tinggi.

Roastery seperti milik Joni akan mencari sumber green bean—kopi mentah yang belum digiling—berkualitas lewat petani kopi lokal dan mengolahnya menjadi biji kopi yang telah disangrai. “Jadi yang kita pikirkan benar kualitas biji kopinya.

Kita fokus di situ dan juga membantu proses pengolahan kopi di coffee shop,” jelas Doni. Bisnis roastery memang belum banyak digeluti pebisnis kopi di Indonesia. Namun, jumlahnya terus bertambah. Tak jarang, pebisnis coffee roastery juga merangkap sebagai coffee shop yang langsung menyajikan hasil kopi olahan mereka.

Baca Juga: Toko Kopi TUKU: Pelopor Manisnya Kopi Susu Gula Aren


Menengok Peluang Bisnis Kopi di Hulu

Bisnis kopi tak melulu harus dengan membuka kedai. “Semakin ke hulu, justru semakin bagus,” ujar Yudha. Ya, industri kopi memiliki rantai pasok yang panjang. Mulai dari awal kopi yang baru dipetik, digiling, di-roasting, hingga diseduh dan tersaji dalam sebuah gelas di hadapan konsumen.

Di bagian paling ujung rantai pasokan, ada petani kopi yang menjaga tingkat produksi kopi Nusantara. Rantai bisnis panjang inilah yang membutuhkan usaha keberlanjutan, terutama di area hulu alias perkebunan kopi.

Gambar 4. Data Total Produksi Kopi Nasional Tahun 2016 - 2020

C:\Users\Public\Videos\Downloads\Produksi Kopi Nasional_ (total) (2).png

Sumber : Databooks milik Katadata.com

Saat ini, produksi kopi Indonesia mencapai sekitar 773 ribu di akhir tahun 2020. Menurut Databooks milik katadata.com, lumbungnya terletak di Pulau Sumatera. Sebanyak 514 ribu ton atau sekitar 71% produksi kopi nasional dihasilkan dari pulau tersebut, dengan Sumatera Selatan sebagai produsen terbesar (215 ribu ton). Posisi kedua dan ketiga secara berturut-turut ditempati oleh provinsi Lampung dan Daerah Istimewa Aceh.

Produksi nasional kita didominasi oleh jenis robusta yang memang menjadi khas Indonesia dan berasal dari sentra kopi di Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jawa Timur, serta Jawa Tengah. Meskipun jumlah produksi terbilang tinggi, namun bukan berarti industri perkebunan kopi sudah padat.

Baca Juga: Mengintip Peluang Cuan Bisnis Lestari dengan Mengolah Sampah Ampas Kopi dan Teh

Malahan, pemerintah makin mengedepankan komoditas kopi sebagai prioritas ekspor skala nasional. Dengan jumlah panen di angka 731 kg/ha pada tahun 2018, produktivitas kopi Indonesia masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan luas potensi lahan yang tersedia di seluruh Nusantara. Karenanya, potensi untuk meningkatkan produktivitas selalu terbuka.

Apalagi dalam beberapa tahun belakangan, ekspor kopi Indonesia sempat mengalami penurunan lantaran meningkatnya konsumsi kopi lokal di dalam negeri. Dilansir dari Liputan6.com, Doni P Joewono selaku Deputi Gubernur Bank Indonesia mengatakan bahwa ini merupakan dampak dari menjamurnya kedai kopi di Indonesia.

“Konsumen kopi dalam negeri tinggi karena banyak kafe kopi yang trennya memakai kopi nusantara,” papar Doni pada salah satu acara diskusi soal kopi di Jakarta penghujung tahun yang lalu. Menurutnya, Indonesia sekarang hanya mampu memenuhi sebanyak 4% dari kebutuhan kopi secara global.

Gambar 5. Tabel Perbandingan Konsumsi dan Produksi Kopi Dari 5 Negara Penghasil Kopi Terbesar

C:\Users\Public\Videos\Downloads\setengah-produksi-kopi-indonesia-untuk-konsumsi-domestik-pada-2018-2019-by-katadata.png

Sumber : Databooks milik katadata.com

Baca Juga: Tang Kitchen: Usaha Kuliner yang Dirintis di Usia Muda

Pernyataan Doni bukan isapan jempol semata. Databooks milik katadata.com mencatat bahwa sepanjang tahun 2018 - 2019, setengah produksi kopi Indonesia dilarikan untuk konsumsi domestik. Menurut data International Coffee Organization, konsumsi domestik Indonesia pada periode tersebut mencapai 50,97% (4.800 kantong) dari keseluruhan jumlah produksinya (9.418 kantong).

Jumlah ini merupakan yang tertinggi dibandingkan negara penghasil kopi lain, seperti Brazil dan Vietnam. Padahal sebelumnya negara kita termasuk dalam 3 negara pemasok kebutuhan kopi dunia yang terbesar.

Artinya, peluang bisnis di sektor perkebunan kopi sebenarnya masih sangat luas.


Akankah Bisnis Kopi Mati Digilas Pandemi?

2020 merupakan tahun yang buruk bagi hampir semua industri, tidak terkecuali bisnis kopi. Setidaknya, ada 1,3 juta petani di Indonesia yang menggantungkan hidupnya dari hasil menanam dan memanen kopi di perkebunan.

Ini belum termasuk para kurir transportasi, penggilingan, pemanggangan, penyiangan, dan pemilik kedai serta barista yang berada di ujung rantai industri. Dua yang disebut terakhir bisa dibilang paling terpukul dan tidak sedikit di antaranya yang harus menutup gerai-gerai kopi mereka.

Moelyono Soesilo selaku Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia, pun mau tidak mau mengakui bahwa pandemi corona menyebabkan permintaan dan konsumsi kopi menurun, dari hulu hingga ke hilir. Pembatasan aktivitas yang diberlakukan oleh pemerintah mengubah gaya hidup masyarakat.

Mereka yang tadinya aktif berkunjung ke kedai-kedai kopi lokal, memilih untuk mengurung diri di rumah dan melakukan segala kegiatan dari sana. Perubahan ini membuat bisnis kopi di hilir terancam bangkrut.

Namun, pebisnis kopi Indonesia termasuk pandai beradaptasi. Lewat inovasi, mereka menemukan cara agar orang-orang yang terkungkung di dalam rumah tetap bisa menikmati kopi dari gerai-gerai favorit. Di bulan Maret 2020, Toko Kopi TUKU meluncurkan produk terbaru : kopi literan dalam botol.

Baca Juga: Lima UKM yang Sukses Membangun Sustainable Business

Beberapa bulan sebelumnya, tim mereka melakukan riset tentang produk apa saja yang paling digemari pelanggan. Varian-varian favorit tersebut dipilih untuk dikemas dalam botol berukuran satu liter, dan dipasarkan melalui kanal e-commerce. Produk ini dinamakan TUKUcur, dengan slogan siap minum dan jaminan tahan selama 5 hari.

Bayangan tetap bisa ngopi di rumah sambil bekerja ternyata sangat menarik bagi pelanggan. Alhasil, produk ini laku keras. Langkah mereka dengan sigap diikuti oleh gerai-gerai kopi lokal lainnya. Segera saja, produk kopi literan sudah tersedia di mana-mana, dengan berbagai macam brand : Kopi Kenangan, Janji Jiwa, Anomali Kopi, dan Kopi Soe.

Pemesanannya yang mudah lewat aplikasi seperti GoFood dan GrabFood menjadi kunci keberhasilan produk ini. Layanan pesan-antar kopi juga jadi populer di mana-mana. Pendeknya, industri kopi di kota besar sukses bertahan di tengah pandemi.

Tahun ini, perubahan tren bisnis kopi mulai terlihat. Pemilik usaha kedai kopi semakin bersaing dengan mengedepankan sajian kopi berkualitas, harga yang terjangkau, dan konsep gerai lebih sederhana. Beberapa, seperti Kopi Kenangan, mengaku tidak khawatir dengan persaingan bisnis kedepannya dan akan terus melakukan ekspansi gerai hingga ke luar pulau Jawa.

Lain dengan bir atau alkohol, menikmati kopi tidak harus dilakukan beramai-ramai. Budaya ngopi adalah sesuatu yang sudah sangat lekat dengan masyarakat sejak dulu. Orang-orang menyesapnya saat sedang bekerja demi meningkatkan konsentrasi maupun saat bersantai guna melepas penat.

Kemajuan teknologi dan pemanfaatannya yang tepat guna turut mendukung perkembangan bisnis kopi masa kini. Hal-hal itulah yang menjadi alasan kenapa industri kopi Indonesia diprediksi akan terus bertahan, melewati pandemi maupun hal-hal lainnya.

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Referensi:

Tabel dan Grafik :

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/0...

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/0...

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/0...

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/1...

Sitasi tabel :

Katadata (2021). Kementerian Pertanian/Produksi Kopi Nasional: (total). Diakses tanggal 17 Juni 2021 dari basis data Databoks.

Berita dan artikel :

https://tirto.id/pasar-bisnis-kedai-kopi-di-indone...

https://akurat.co/amp/7-faktor-pendorong-pertumbuh...

https://gobiz.co.id/pusat-pengetahuan/tren-bisnis-...

https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4079004/ce...

https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4233505/se...

https://www.kompas.com/food/read/2020/11/10/182100...

https://m.liputan6.com/bisnis/read/4414381/kedai-k...

https://www.antaranews.com/berita/841828/peneliti-produktivitas-kopi-di-indonesia-masih-rendah

https://katadata.co.id/ekarina/berita/5fa93cddb3869/tren-bisnis-kedai-kopi-2021-harga-makin-terjangkau-kualitas-bersaing