UKM Indonesia

Potensi Ekspor Produk Seafood



Lautan seluas 5,8 juta kilometer persegi yang dimiliki Indonesia merupakan potensi besar yang kita miliki. Namun sayangnya, potensi luar biasa ini rasanya belum tergali secara optimal sehingga belum dimanfaatkan secara baik. Diperkirakan, 80 persen potensi kekayaan kelautan di Indonesia saat ini belum terjamah.

Baca Juga: Bagaimana UKM Dapat Memvalidasi Potensi Produk dan Peluang Pasar?

Di sisi lain, pandemi Covid-19 disebut sebagai penyebab utama disrupsi perdagangan dunia saat ini, tidak terkecuali perdagangan produk perikanan dimana total nilai ekspor produk perikanan global tahun 2020 mencapai USD 152 miliar atau setara dengan 2.191 Triliun Rupiah. Angka ini lebih rendah atau turun 7% dibanding tahun 2019.

Namun, di saat seluruh eksportir utama produk perikanan juga mengalami penurunan nilai ekspor, ekspor produk perikanan Indonesia justru mengalami peningkatan. Dilansir dari Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Indonesia naik 2 peringkat menjadi berada di posisi 8 sebagai eksportir utama produk perikanan dunia tahun 2020.

Berdasarkan data yang dirilis oleh ITC Trade Map dan Statistik Ekspor Hasil Perikanan Tahun 2016-2020, nilai ekspor produk perikanan Indonesia tahun 2020 mencapai USD 5,2 miliar atau setara dengan 74 Triliun Rupiah. Angka ini tumbuh secara positif sebesar 5,7 persen dibandingkan tahun 2019.

Sehingga, neraca perdagangan hasil perikanan Indonesia di tahun 2020 mencapai surplus USD 4,777 Miliar atau setara dengan 68 Triliun Rupiah. Surplus ini merupakan yang tertinggi pada periode 2016-2020, sedangkan yang terendah pada tahun 2016 dengan surplus sebesar USD 3,789 Miliar atau setara dengan 54 Triliun Rupiah.

Baca Juga: Potensi Ekspor Makanan Olahan Kemasan Dari Indonesia

Neraca perdagangan Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun, dari 2016-2020 naik sebesar 6,00% per tahun. Ekspor hasil perikanan Indonesia pada tahun 2020 mencapai USD 5,205 Miliar atau setara dengan 75 Triliun Rupiah. Nilai ekspor hasil perikanan menunjukkan tren positif dengan kenaikan sebesar 5,72% per tahun dalam periode 2016-2020.

Impor hasil perikanan Indonesia pada tahun 2020 sebesar USD 428 Juta atau setara dengan 6 Triliun Rupiah. Nilai impor mengalami kenaikan rata-rata sebesar 3,13% pada periode yang sama. Neraca Perdagangan Hasil Perikanan Tahun 2016-2020 dapat dilihat pada Gambar berikut.

Gambar 1. Neraca Perdagangan Hasil Perikanan Tahun 2016 hingga 2020

Sumber: Statistik Ekspor Hasil Perikanan Tahun 2016-2020

Berbanding terbalik dengan Indonesia, sebagian besar negara eksportir utama produk perikanan dunia mengalami penurunan cukup signifikan dibanding 2019, seperti Tiongkok turun 7,8 persen, Norwegia turun 7,5 persen, Vietnam turun 2,1 persen, India turun 15,1 persen, Thailand turun 2,2 persen, dan Ekuador turun 1,5 persen.

Baca Juga: Mengenal Ragam Standar Global Produk Ekspor

Peningkatan nilai ekspor produk perikanan Indonesia merupakan kontribusi dari suplai produk perikanan bergizi yang sangat diperlukan masyarakat global di masa pandemi Covid-19. Saat ini, negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor produk perikanan dunia dengan rata-rata nilai ekspor tahun 2016-2020 masing-masing sebesar USD 23,08 miliar atau setara dengan 332.691 Miliar Rupiah, USD 15,26 miliar atau setara dengan 219.968 Miliar Rupiah, dan USD 13,80 miliar atau setara dengan 198.922 Miliar Rupiah.


Ekspor Hasil Perikanan Berdasarkan Komoditas

Jika dilihat berdasarkan komoditasnya berdasarkan data ITC Trade Map dan Statistik Ekspor Hasil Perikanan Tahun 2016-2020, udang masih menjadi komoditas unggulan. Produk unggulan lainnya disusul Tuna – Cakalang (TCT), Cumi – Sotong – Gurita (CSG), Rajungan – Kepiting, dan Rumput Laut.

Selama tahun 2020, nilai ekspor Udang Indonesia mencapai USD 2,04 miliar atau setara dengan 29 Triliun Rupiah. Nilai ini setara pula dengan 8,8 persen terhadap nilai impor total Udang dunia.

Sedangkan, TCT sebesar USD 724 juta atau setara dengan 10 Triliun Rupiah. Nilai ini setara pula dengan 5,0 persen. Komoditas lainnya yaitu CSG sebesar USD 509 juta atau setara dengan 7 Triliun Rupiah.

Baca Juga: UKM Bisa Siap Ekspor Dengan Kenali 8 Hal ini

Nilai ini setara pula dengan 6,0 persen. Komoditas berikutnya yaitu Rajungan – Kepiting sebesar USD 368 juta atau setara dengan 5 Triliun Rupiah. Nilai ini setara pula dengan 6,8 %, dan komoditas terakhir yaitu Rumput Laut sebesar USD 280 juta atau setara dengan 4 Triliun Rupiah. Nilai ini setara pula dengan 11,4 persen.

Tabel 1. Volume dan Nilai Ekspor Menurut Komoditas Utama Tahun 2016-2020

Sumber: Statistik Ekspor Hasil Perikanan Tahun 2016-2020


Ekspor Hasil Perikanan Menurut Negara Tujuan

Sepuluh negara tujuan ekspor dengan volume hasil perikanan terbesar pada tahun 2020 yaitu Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, Thailand, Malaysia, Vietnam, Taiwan, Singapura, Korea Selatan, dan Arab Saudi.

Sedangkan berdasarkan nilai ekspor hasil perikanan, sepuluh terbesar negara tujuan ekspor pada tahun 2020 yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Thailand, Vietnam, Taiwan, Malaysia, Italia, Hongkong, dan Singapura.

Baca Juga: Kemitraan, Strategi Bisnis UMKM Dalam Meningkatkan Omzet Penjualan

Tiongkok merupakan negara tujuan ekspor hasil perikanan dengan volume terbesar pada tahun 2020 sebesar 422.564.850 kilogram, sedangkan Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor hasil perikanan dengan nilai tertinggi pada tahun 2020 sebesar USD 2.096.627.031.

Pada kurun waktu 5 tahun terakhir, volume ekspor hasil perikanan ke Tiongkok mengalami kenaikan rata-rata sebesar 11,73%, ke Amerika Serikat naik sebesar 7,29%, ke Jepang turun sebesar 0,33%, ke Thailand naik sebesar 21,13%, ke Malaysia naik sebesar 3,98%, ke Vietnam turun sebesar 18,37%, ke Taiwan naik sebesar 0,62%, ke Singapura turun sebesar 4,38%, ke Korea Selatan naik sebesar 5,06%, ke Arab Saudi naik sebesar 10,45%, dan ke negara tujuan ekspor lainnya turun sebesar 1,36% per tahun. Volume ekspor hasil perikanan menurut negara tujuan tahun 2016-2020 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2. Volume Ekspor Menurut Negara Tujuan Tahun 2016 hingga 2020

Sumber: Statistik Ekspor Hasil Perikanan Tahun 2016-2020


Potensi Ekspor Seafood ke Toronto

KJRI Toronto terus mendorong ekspor produk seafood Indonesia ke empat provinsi yang menjadi wilayah kerja KJRI Toronto, yaitu Ontario, Manitoba, Saskatchewan, dan Nunavut. Data Statistics Canada menunjukan bahwa nilai ekspor produk seafood Indonesia ke wilayah kerja selama tahun 2020 mencapai US$ 20.677.020 atau setara dengan 198 Miliar Rupiah.

Baca Juga: Pentingnya Memiliki Visi Dalam Menentukan Arah Pengembangan Usaha

Angka ini naik sebesar 15.6 persen jika dibandingkan tahun 2019 lalu. DAri keempat provinsi tersebut, Provinsi Ontario merupakan tujuan utama ekspor. Hal ini karena provinsi Ontario memiliki grosir seafood terbesar dan menjadi pusat wholesale industry untuk produk seafood di Kanada, hingga mencapai 23,6 persen.

Gambar 2. Ekspor Seafood Indonesia ke Wilayah KErja KJRI Toronto

Sumber: Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Toronto

Dilansir dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Toronto Kanada, produk dengan potensi yang tinggi di pasar Kanada adalah udang, dimana total nilai ekspor udang Indonesia ke wilayah kerja pada tahun 2020 mencapai US$ 8.526.552 atau setara dengan 122 Miliar Rupiah, naik 31.6 persen dari tahun 2019.

Pada Triwulan I 2021, ekspor udang Indonesia ke wilayah kerja juga tercatat meningkat sebesar US$ 1.442.243 atau setara dengan 20 Miliar Rupiah. Nilai ini naik 84,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020.

Gambar 3. Ekspor Udang ke Wilayah KErja KJRI Toronto

Sumber: Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Toronto

Selain udang, komoditas ekspor lainnya adalah produk tuna Indonesia, dimana pada tahun 2020 dapat mencapai US$ 3.208.516 atau setara dengan 46 Miliar Rupiah, naik sebesar 40 persen. Pada Triwulan I 2021, Statistics Canada mencatat peningkatan yang signifikan sebesar 2.780 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020.

Baca Juga: Mempersiapkan Ekspansi Bisnis Melalui Franchise Ala Fish Streat

Gambar 4. Ekspor Tuna ke Wilayah KErja KJRI Toronto

Sumber: Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Toronto

Ekspor produk octopus ke wilayah kerja terbilang belum signifikan. Nilai ekspor produk Octopus Indonesia ke wilayah kerja selama tahun 2020 tercatat hanya mencapai US$ 541.636, naik sebesar 5,06% dibandingkan tahun 2019. Selama Triwulan I 2021, ekspor produk tersebut mengalami penurunan drastis hingga 62.17 persen dibandingkan pada periode yang sama tahun 2020.

Gambar 5. Ekspor Octopus ke Wilayah KErja KJRI Toronto

Sumber: Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Toronto

Untuk dapat meningkatkan ekspor produk seafood Indonesia ke wilayah kerja, KJRI Toronto aktif menggandeng pelaku usaha perikanan maupun Kementerian ataupun Lembaga terkait Indonesia dalam berbagai kegiatan promosi. Selain itu, KJRI Toronto juga aktif memfasilitasi negosiasi langsung antara eksportir Indonesia dan calon buyer di wilayah kerja.


Potensi Ekspor Seafood ke Amerika Serikat

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo mengatakan bahwa perkembangan persyaratan impor Amerika Serikat saat ini semakin ketat, baik dari unsur keamanan pangan (food safety) maupun dari unsur keberlanjutan (sustainability), sebagaimana tertuang dalam Food Safety Modernization Act, Seafood Import Monitoring Program, serta rencana pemberlakuan ketentuan impor baru yaitu terkait Marine Mammal Protection Act (MMPA).

Baca Juga: Tips Desain Kemasan untuk Menonjolkan Keunggulan Produk dan Citra Brand

Hal tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang bagi eksportir produk perikanan mengingat Indonesia memiliki kebijakan yang sejalan dengan pemerintah Amerika Serikat dalam hal keamanan produk pangan dan keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam.

Pada tahun 2019, Indonesia menempati urutan ke-11 eksportir produk perikanan di dunia dengan nilai sebesar US$ 4,9 miliar atau setara dengan 70 Triliun Rupiah. Nilai ini setara dengan sekitar 3 persen pangsa pasar global.

Sementara Amerika Serikat (AS) yang merupakan importir terbesar produk perikanan dunia, Indonesia menempati urutan ke-5 dengan nilai ekspor sebesar US$ 1,9 miliar atau setara dengan 27 Triliun Rupiah. Angka ini setara dengan 8,2% pangsa pasar impor produk perikanan AS.

Ketatnya persyaratan dari negara Amerika Serikat dan adanya persaingan antar negara-negara eksportir produk perikanan, membuat pemerintah Indonesia terus berupaya dalam mengembangkan sistem sertifikasi hasil tangkapan ikan, sistem ketertelusuran ikan, implementasi Seafood Import Monitoring Program (SIMP), implementasi logbook, serta terus menjaga sumberdaya laut.

Adapun strategi yang ditempuh pemerintah diantaranya melalui konservasi sumberdaya perikanan, seperti mengurangi resiko kematian mamalia laut dalam kegiatan penangkapan ikan.


Potensi Ekspor Seafood ke Slovakia

Dilansir dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bratislava, meningkatnya permintaan pasar Slovakia untuk produk seafood ditunjang oleh peningkatan daya beli masyarakat. Hal ini berkontribusi besar bagi pertumbuhan impor terkait produk kelautan.

Di sisi lain, hal ini juga karena Slovakia sebagai negara yang tidak memiliki kemampuan dalam memenuhi kebutuhan produk kelautannya secara mandiri. Bahkan, FAO atau Food and Agriculture Organization memproyeksikan bahwa di tahun 2030, konsumsi ikan per kapita di Slovakia akan mencapai 8 kg per tahunnya.

Gambar 6. Ekspor Produk Kelautan

Sumber: liputan6

Dari tiga negara di kawasan Asia Tenggara, saat ini Thailand menempati urutan posisi pertama dibanding Vietnam dan Filipina terkait ekspor produk kelautan ke Slovakia. Saat ini, Thailand dan Filipina sudah melakukan transformasi dari yang awalnya hanya mengandalkan produksi yang semi processed, menjadi fully processed. Sehingga, produk kelautan Thailand dan Filipina dapat langsung masuk ke negara- negara maju.

Baca Juga: Kisah Dimsum Ibu, Lahir Saat Pandemi Hingga Orderan Ala Bikin Candi

Disisi lain, hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk dapat bersaing dengan negara-negara dari kawasan Asia Tenggara lainnya dalam memperebutkan pangsa pasar produk kelautan di Eropa secara umum dan Slovakia secara khusus.

Terlebih dengan adanya prediksi FAO yang memproyeksikan bahwa di tahun 2030 konsumsi ikan per kapita di Slovakia akan mencapai 8 kg per tahunnya, maka perlu kiranya eksportir dari Indonesia mengenal dan memahami bagaimana karakteristik produk kelautan yang dibutuhkan oleh Slovakia, seperti bagaimana pola perubahan konsumsi produk kelautan, perkembangan jaringan supermarket dan industri retail di Slovakia, perhatian terhadap masalah atau isu ekologi, hingga perbaikan kualitas industri pengolahan ikan.

Terkait dengan kebutuhan produk kelautan di Slovakia, ikan beku atau frozen fish terus mengalami pertumbuhan positif. Permintaan pasar terhadap jenis ikan dan produk seafood yang lebih mahal pun juga meningkat, terutama untuk kebutuhan di industri perhotelan dan restoran.

Produk ikan beku yang paling populer di Slovakia adalah fish fillets, khususnya jenis cod fish, pike, dan Alaska salmon. Lebih jauh, tingkat konsumsi ikan di beberapa wilayah Slovakia bervariasi, namun konsumsi di wilayah-wilayah barat daya Slovakia merupakan yang paling tinggi jika dibandingkan dengan wilayah lainnya. Hal ini dikarenakan standar hidup yang cukup tinggi di wilayah tersebut.


Potensi Ekspor Seafood ke Jepang

Ekspor perikanan terus melesat di tengah pandemi Covid-19, terbaru. Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Provinsi Maluku melakukan ekspor 2.200 kg (2,2 ton) ikan tuna ke Jepang.

Baca Juga: Jitu Membidik Peluang Pasar dan Target Negara Ekspor

Sebelum melepas ekspor, sertifikat Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) juga telah dipastikan keabsahannya. Sertifikat ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah ke negara tujuan ekspor bahwa produk perikanan tanah air aman dikonsumsi.

Selain aman dikonsumsi, HACCP juga menandakan bahwa perusahaan pengekspor telah mengantongi Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) atau bukti penerapan cara pengolahan ikan yang baik (Good Manufacturing Practices) dan memenuhi persyaratan prosedur operasi standar sanitasi (Sanitation Standard Operating Procedure).

Bagaimana Sahabat Wirausaha, ingin mengoptimalkan potensi ekspor produk kelautan? Yuk kita dukung kebutuhan produk kelautan dalam negeri dan juga dunia tentunya. Tetap semangat dan selamat bertumbuh ya Sahabat Wirausaha!

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Referensi:

  1. Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan. Peringkat Indonesia Sebagai Eksportir Produk Perikanan Dunia Meningkat di Masa Pandemi.
  2. Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan. Statistik Ekspor Hasil Perikanan Tahun 2016-2020.
  3. Kementerian Luar Negeri. Ekspor Seafood Indonesia ke Wilayah Kerja KJRI Toronto.
  4. Kedutaan Besar Bratislava. Peluang Ekspor Produk Fresh Fish, Seafood, dan Ikan Olahan Indonesia ke Slovakia.
Sukai postingan ini:
KOMENTAR
Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: