Tak jarang kita mendengar terminologi validasi pasar dalam memulai sebuah usaha. Validasi pasar merupakan sebuah proses di mana para pelaku usaha menentukan apakah terdapat kebutuhan terhadap produk yang dipasarkan dengan kebutuhan pasar sendiri. Proses validasi pasar juga berkaitan dengan bagaimana pelaku usaha menunjukkan atau mempresentasikan konsep produknya kepada target pasar dan mendapatkan ilham dari perspektif para calon pembelinya apakah ide tersebut setimpal untuk diperjuangkan atau tidak. Dengan singkat, validasi pasar adalah proses melihat apakah produk dibutuhkan oleh pasar atau tidak. Validasi pasar ini biasanya dilakukan sebelum memproduksi secara masal atau di tahap awal dalam pengembangan produk sebelum produk diluncurkan di publik.

Setidaknya ada dua alasan untuk melakukan validasi pasar sebelum meluncurkan produk ke pasar. Pertama, menghindari kesalahan produk yang besar. Meluncurkan produk bukanlah sebuah hal yang mudah dan murah. Oleh karenanya, sebuah kegagalan dalam meluncurkan produk adalah fatal dan memakan banyak biaya. Dengan validasi pasar, efek negatif ini dapat diminimalkan dengan mengerti para pengguna dan memastikan bahwa produk yang dibuat dibutuhkan oleh para penggunanya. Kedua, mengamankan pendanaan. Beberapa orang yang baru memulai bisnis akan membutuhkan dana yang mungkin saja berasal dari pihak eksternal atau investor. Dengan melakukan validasi pasar, para pelaku usaha dapat meyakinkan para investor bahwa produknya akan sukses di pasar karena sebelumnya telah dites ke pasar.

Sebagai pelaku usaha, Sahabat Wirausaha dapat melakukan validasi pasar sebelum meluncurkan produk baru atau menyempurnakan produk yang sudah ada saat ini dengan beberapa langkah yang akan dijelaskan di bawah ini.

Langkah 1 – Membuat asumsi

https://iradiofm.com/wp-content/uploads/2018/01/asumsi-300x194.jpg

Proses validasi pasar dapat dilakukan dengan membuat tujuan dan dugaan atau bisa disebut asumsi. Asumsi adalah pernyataan yang ingin dibuktikan melalui proses pengujian. Dalam hal ini yaitu validasi pasar. Pada akhir proses validasi pasar, asumsi-asumsi yang telah buat akan dibuktikan apakah benar atau salah bahwa produk dibutuhkan dan diterima di pasar.

Beberapa asumsi yang dapat digunakan:

  • Produk ini akan memecahkan masalah berupa …

Di asumsi ini, pelaku usaha akan menuliskan apa tujuan dari dibuatnya produk ini atau nilai yang ditawarkan dari produk ini.

  • Terdapat kebutuhan untuk memiliki produk ini.

Pelaku usaha menjelaskan bagaimana ia yakin bahwa produk ini dibutuhkan oleh calon penggunanya.

  • Kalangan yang membutuhkan produk ini adalah …

Di sini, pelaku usaha menjelaskan siapa saja yang menjadi target pasarnya. Mereka-mereka ini adalah kaum-kaum yang akan sangat membutuhkan produk ini.

  • Rp… adalah harga yang sesuai dengan produk ini.

Pengaturan harga juga penting untuk diuji sehingga pelaku usaha dapat mendapatkan margin yang tepat yang sesuai dengan keinginan pengguna dan juga biaya produksinya.

Langkah 2 – Membangun pengujian

https://usabilitygeek.com/wp-content/uploads/2018/06/best-ux-tools-user-research-testing-lead.jpg

Ketika asumsi telah siap dituliskan dan diuji, saatnya pelaku usaha untuk mendesain dan memilih metode riset atau penelitian apa yang terbaik dilakukan olehnya untuk menguji asumsi-asumsi sebelumnya. Metode-metode yang paling sering digunakan oleh para pelaku usaha adalah survei dan wawancara para calon pelanggan.

Survei adalah sebuah metode dengan memberikan responden sebuah set pertanyaan untuk dijawab. Biasanya survei ini relatif dapat dilakukan dengan cepat dan mendapatkan responden yang banyak namun tidak mendalam. Sedangkan, wawancara adalah sebuah metode yang menanyakan langsung dan mendalam kepada calon pelanggan beberapa pertanyaan. Dengan wawancara, pelaku usaha akan mendapatkan pendapat yang mendalam bagaimana pendapat calon pelanggan terhadap ide maupun produk yang akan diluncurkan. Sayangnya, proses wawancara akan membutuhkan lebih banyak waktu dibandingkan dengan survei. Tiap metode memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Banyak para peneliti menggabungkan kedua metode tersebut untuk mendapatkan pendapat yang menyeluruh dan dalam terhadap sebuah asumsi.

Pada langkah ini juga, pelaku usaha membuat daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada responden. Pertanyaan yang diajukan harus dipikirkan matang-matang dan jangan sampai ada hal-hal penting yang harusnya ditanyakan namun tidak sempat ditanyakan. Berlatih untuk melakukan riset juga dapat dilakukan seperti apakah pertanyaannya sudah sesuai dan dapat mudah dimengerti sebelum menyebar ke berbagai pihak.

Langkah 3 – Mencari partisipan dalam riset

When to use subjects, participants or volunteers to describe your research  subjects - WhiteCloud

Bagian ini merupakan bagian penting yang akan menentukan bagaimana riset berjalan dengan baik. Sahabat Wirausaha perlu mencari partisipan yang merupakan perwakilan dari pengguna produk ini nantinya. Tanpa adanya keterwakilan, proses ini akan menjadi sia-sia. Sebagai contoh, jika produk yang akan ditawarkan adalah produk makanan bayi instan sehat, cobalah untuk mencari responden orang-orang tua yang memiliki anak di usia dini. Namun, jika respondennya mahasiswa akan tidak jadi masuk akal bagi mereka. Pemberian insentif juga dapat menggugah hati para responden untuk mengisi survei atau melakukan wawancara.

Langkah 4 – Menganalisis dan meninjau eksperimen

https://www.course-net.com/wp-content/uploads/2020/10/data-scientist.jpeg

Setelah data yang didapat cukup, proses selanjutnya adalah melihat bagaimana respons dari para calon pengguna dan melihat bagaimana asumsi yang kita bangun sebelumnya apakah benar atau salah. Salah satu hal yang perlu diingat adalah terbukti salah bukan berarti gagal.

Analisis dapat dilakukan dengan membuat tabel statistik mengenai pendapat para pengguna. Kemudian, melihat lebih banyak mana yang setuju atau tidak setuju dengan asumsi yang telah dibangun sebelumnya. Ketika lebih banyak responden yang mendukung produk atau ide tersebut, jangan langsung berpuas hati dan mengatakan bahwa telah mengerti pengguna namun jadi rendah hati dan terus memperbaiki produk. Jika pun produk ternyata tidak banyak disukai, sudah sepatutnya untuk mencari ide lain atau memperbaiki sesuai dengan keinginan pasar.

Proses validasi pasar ini juga tidak dapat berhenti ketika produk dirasa sesuai dengan kebutuhan pasar. Proses validasi pasar ini adalah sebuah proses berkelanjutan sehingga selalu menciptakan inovasi.

Dalam melakukan uji validasi pasar juga sering disebutkan mengenai Minimum Viable Product atau lebih sering disebut MVP. MVP sendiri merupakan sebuah strategi pengembangan produk yang banyak dilakukan oleh pelaku usaha yang baru merintis usahanya. Minimum Viable Product adalah sebuah produk yang memiliki fitur-fitur yang sangat dasar namun masih memberikan nilai tambah bagi para penggunanya atau produk yang sedang dibuat belum sempurna namun sudah memiliki fitur utama yang akan ditawarkannya. Dengan menawarkan MVP saat melakukan uji validasi pasar, pasar akan merespons timbal balik berupa fitur apalagi yang harus dihadirkan oleh produk tersebut. Akhirnya, produk akan sempurna sesuai dengan keinginan para pengguna.

Sahabat Wirausaha, menciptakan produk yang telah tervalidasi pasar sungguh menarik, bukan? Jika Sahabat Wirausaha dapat membaca situasi pasar terlebih dahulu sebelum meluncurkan produk ke pasar. Hal ini merupakan sebuah langkah penghematan ataupun menghindari risiko dari gagal meluncurkan produk yang akhirnya menjadi biaya-biaya terbuang sia-sia. Proses ini juga mengingatkan bahwa untuk terus menerus meningkatkan inovasi dan membuat kemajuan yang berkelanjutan bagi usaha Sahabat Wirausaha.

Ingat, produk yang berhasil itu bukanlah yang bagus menurut asumsi kita, namun haruslah yang sesuai dengan validasi pasar. Banyak pelaku usaha yang gagal karena tidak mau untuk validasi pasar dalam mengembangkan produknya. Produk tanpa validasi pasar hanyalah akan menjadi sampah dan sia-sia. Maka pikirkan selalu apa kebutuhan konsumen yang ingin kita atasi melalui produk kita. Lakukan validasi secara berkesinambungan. Jadi semangat selalu yah Sahabat Wirausaha untuk lakukan validasi pasar!

Referensi:

  1. https://online.hbs.edu/blog/post/market-validation
  2. https://maze.co/blog/market-validation/
  3. https://glints.com/id/lowongan/minimum-viable-prod...