Istilah social enterprise kini makin populer di kalangan masyarakat secara global. Disebut juga wirausaha sosial, istilah ini merujuk pada kegiatan wirausaha yang menggabungkan konsep mencari profit dengan tujuan tambahan membantu lingkungan sosial, memberdayakan masyarakat, menjawab suatu permasalahan di masyarakat. Berdasarkan data dari hasil studi yang dilakukan British Council pada tahun 2018, saat ini di Indonesia ada sekitar 342 ribu wirausaha sosial yang terdaftar. 

Andi F. Noya, Veronica Colondam, dan Ronald Walla adalah beberapa orang yang berkecimpung di bidang wirausaha sosial. Tanpa lelah, mereka menggenjot semangat anak-anak muda untuk berani memulai usaha dan menjadi sociopreneur. Yuk, simak penjelasan mereka tentang bagaimana mencari dana dengan proposal bermisi sosial, membangun ekowisata berkelanjutan, hingga merajut jaringan sebagai wirausaha sosial. 

Menawarkan Ide Bisnis di BenihBaik.com

BenihBaik.com merupakan suatu aplikasi sekaligus situs website yang menjembatani pegiat UMKM dengan para pemberi dana. Dijelaskan oleh Andi F. Noya, salah satu founder BenihBaik.com, bahwa yayasan yang menaunginya juga menerima dana CSR dari berbagai perusahaan, yang kemudian dimanfaatkan untuk membantu bisnis-bisnis dengan misi sosial. Tentunya, teman-teman UKM cukup penasaran, bagaimana agar ide bisnis kita bisa menarik perhatian BenihBaik?

Andi menjelaskan, bahwa jenis usaha yang dibentuk komunitas, seperti pesantren atau koperasi, akan lebih mudah untuk menarik perhatian. “Kalau untuk individual, masih susah untuk menduga-duga impact atau dampak yang ditimbulkan dengan bantuan kami,” ujarnya. BenihBaik juga akan lebih fokus mendanai usaha-usaha yang menawarkan dampak sosial terhadap masyarakat. Konsep bisnis inilah yang harus didetailkan dalam proposal, apa model bisnis dan berapa rencana biayanya. “Di bagian dampak, bisa dijelaskan berapa petani yang bisa terbantu, anak-anak yang bisa sekolah, dan lain-lain,” jelas Andi. 

Dampak yang dimaksud pun tidak harus besar. “Walaupun hanya 2-3 orang yang terdampak, tapi kita lihat visinya jelas, dan produknya bagus punya masa depan dan kreatif,” tutur Andi. Menurutnya, anak-anak muda harus terus didorong ke dunia sociopreneurship untuk kemudian bertemu dengan pengusaha-pengusaha IKM dan pengusaha Ultra Mikro (UMi) tadi. Karena umumnya, banyak produk yang disentuh anak muda kreatif disulap menjadi cantik. Kaum muda memang lebih mengerti cara branding suatu produk. Dan dalam konteks membantu permodalan, hal ini harus dibarengi dengan pelatihan. BenihBaik sendiri bekerja sama dengan beberapa pihak untuk menyelenggarakan pelatihan ini. 

Agar bisa mencuat di antara yang lain, menurut Andi, produk kita juga harus punya cerita. Tren yang sedang berkembang belakangan adalah konsumen lebih tertarik pada brand yang memiliki cerita sosial maupun nilai filosofis di belakangnya. 

Andi bercerita tentang sebuah usaha keripik di Cianjur, yang digagas oleh seorang anak lulusan ITB yang bekerja di perusahaan minyak besar. Ia melihat bahwa ikan petek di waduk Cirata kan sering diambil oleh petani, kemudian dibuang atau diberi makan bebek. Baunya amis luar biasa sebab proteinnya tinggi. Akhirnya dia selidiki, dibawa ke laboratorium, dan ternyata bau amis ini bisa dihilangkan. “Akhirnya dibuat keripik ikan petek, kemudian diajak ibu-ibu yang memang miskin untuk mengelola dan memproduksi ini. Sekarang, sudah sampai ekspor jangkauan pasarnya,” jelas Andi. Ini adalah contoh bahwa anak-anak muda adalah andalan kita untuk memanfaatkan hal-hal yang ada di sekitar dan menjadikannya lapangan pekerjaan sekaligus sumber cuan. 

Tidak bisa usaha-usaha yang hanya meniru-niru tren. Kita percaya dengan pelatihan dan literasi keuangan, uang modal bisa dikelola dengan baik. Dana dari koperasi UMKM sebenarnya luar biasa, namun terkadang untuk mencari pengusaha-pengusaha yang tidak oportunis. Banyak orang melihat peluang, membuat usaha abal-abal, membuat proposal, lalu saat sudah dapat modal, dia bawa lari uangnya dan tidak jelas digunakan untuk apa. “Kita harus benar-benar punya usaha, dan BenihBaik tetap butuh diyakinkan,” ujar Andi.

Menggaet Pemerintah dan Dana CSR Swasta Untuk Program Ekowisata

Menurut Andi F. Noya, penting bagi kita untuk melibatkan perangkat desa dan pemerintah setempat jika ingin menggarap program ekowisata. Proyek ekowisata memang harus dimotori oleh kepala desa, karena dia yang akan membuat kebijakan dan meloloskan perizinan untuk melancarkan usaha bersama itu. Tak ketinggalan, teman-teman juga harus sowan ke tetua-tetua di sana. Biasanya, saat tokoh masyarakat suportif, proyek kita juga akan berjalan dengan baik. 

Pihak swasta pun tak kalah pentingnya. Andi pernah membawa 50 anak-anak ke Lembang, tempat ekowisata Dusun Bambu dan floating market. Setelah presentasi di Dusun Bambu, pemilik Eiger mau membantu 1,5 miliar untuk membangun danau kecil di sana. “ Dia datang sudah bersama arsitek pula, sudah ada niat besar untuk membantu pariwisata,”  ujar Andi. Artinya, swasta memang harus dilibatkan. Tapi, sekali lagi, konsepnya harus benar-benar jelas. 

Proposal tentu akan diteliti satu per satu beserta background-nya. Sebab, pihak yang memberi dana juga takut uangnya akan hilang, menguap begitu saja tanpa jadi apa-apa. CSR memang dana hibah, tapi bukan berarti kemudian sesuka hati. Mereka mau ada kisah sukses. Ini sudah mulai menjadi mindset dari perusahaan-perusahaan besar saat ini, bahwa jika mereka bantu, ini bukan bantuan sosial biasa. Tapi harus dikerjakan dan dikontrol sampai di mana usaha ini, dan saat kita berkembang, mereka tentu tidak akan ragu untuk membantu lagi. Jadi, kalau ekowisata yang pertama adalah konsepnya, kemudian keterlibatan perangkat desa. 

Menurut Andi, dalam membangun ekowisata, kita harus berhati-hati dan buat aturan-aturan main dulu. Potensi memang selalu ada, terutama jika desanya indah. Namun, jangan sampai terburu-buru memborong investasi dengan proyek yang kerjanya instan. Kita harus memulai usaha sehat dan panjang, pelan-pelan, tapi dampaknya berkelanjutan. “Jadi jangan ujug-ujug tiba-tiba bikin proyek instan di sini, “ ujar Andi.  Sebab, kalau awalnya asal saja dan tidak ada konsep, bisa ada perselisihan satu sama lain, jalannya justru sendiri-sendiri, dan akhirnya berantakan. Kita juga harus pandai meriset dan tahu seluk beluk desa. Andi pernah menyarankan Bupati untuk mengontrol investor, membuat aturan supaya tidak boleh orang kota dengan investasi yang gila-gilaan akhirnya membuat hancur seperti di Baturaden, Banyumas. Itu hancur kenapa, karena orang-orang investasi, membangun ramai-ramai, akhirnya tidak terkontrol dan praktik prostitusi di mana-mana. “Apakah desa seperti itu yang kita impikan sebagai desa ekowisata? Tentu bukan,” pungkasnya.

Waktu dan Effort yang Harus Dikorbankan Untuk Membentuk Jaringan

Berapa lama kira-kira waktu yang harus diinvestasikan jika kita ingin membangun relasi, merumuskan konsep usaha, melakukan riset dan testing hingga bisa dilirik pemberi dana? Menjawab ini, Veronica Colondam, Founder dan CEO YCAB Foundation, menjawab bahwa setidaknya teman-teman UKM akan membutuhkan waktu 18 bulan. “Belum lagi membangun relasi dengan investor, dan ngomong-ngomongnya lebih banyak, kecuali ke private equity,” jelasnya.  

Diakui oleh Veronica, bahwa pendekatan ke pemangku-pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan memang penting. Business model kita juga harus kuat, di mana harus ada unsur pemberdayaan dalam menjalankan bisnis. Produk atau brand kita juga harus punya nilai unik yang tidak dimiliki usaha lain. Desain bisa sama, harga bersaing, semua bisa sama, tapi narasi atau cerita di belakangnya berbeda. “Sentuhan seperti inilah yang membuat posisi bisnis kita menjadi social impact. Bukan hanya membuka lapangan pekerjaan, tapi ada intensi khusus dengan misi sosialnya,” tutur Veronica.

Tapi orang yang bekerja di sana adalah orang-orang yang diberdayakan (Tunadaksa). Harus ada pemberdayaan, harus ada unsur ramah lingkungan. Saat ini, bahkan investment grading suatu perusahaan saja bisa ditentukan oleh impact yang ditimbulkannya. “Kalo kita tidak punya impact, kita ketinggalan jaman, dan tidak lagi relevan,” jelas Veronica berapi-api. Perusahaan, dan pemberi dana ingin merasa bahwa “saya melakukan sesuatu yang baik”, tapi doing business juga yang bisa mewadahi talenta kita, itu yang mereka mau. 

Jika membutuhkan 18 bulan untuk membangun relasi dengan para pemangku kepentingan, berarti selama 18 bulan itu untuk hidup saya harus ngapain ya yang realistis?

Ronald dari Wismilak, berpendapat sekarang ini masanya vulnerability, dan uncertainty. Banyak orang yang mau membantu UMKM dan UMi, tapi kekurangan informasi. “Jadi yang penting itu menurut saya, tulus dan bermisi untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan dan bergaul dengan orang-orang yang seprinsip, sejalan, dan ulet. Eksekusinya dengan disiplin, tapi harus terukur agar tumbuhnya juga berjenjang. Sebenarnya bisa saja sebuah usaha langsung besar, dalam waktu cepat, namun nanti pasti unsur sustainability-nya akan dipertanyakan. 

Ada 3 unsur : clarity of why, discipline of how, dan consistency of what. Ketiganya pasti akan menghasilkan profit. Jadi mumpung di masa pandemi kita tidak terlalu hectic, bisa merefleksi diri apa yang harus diperbaiki, merenungkan lagi tujuan hidup. Join grup yang memang selaras dengan passion kita. Ada kegagalan, akan ada juga keberhasilan, setelah kegagalan kita akan belajar dan jadi lebih ulet. 

Setelah mendengarkan penjelasan dari ketiga penyokong konsep sociopreneur di atas, kita bisa simpulkan bahwa berbisnis dengan hati untuk kesejahteraan sosial punya level-level tertentu. Di level pertama, teman-teman UKM  hanya harus mencoba mengintegrasikan dampak sosial kita kepada pihak-pihak yang lemah dan perlu diberdayakan kepada model bisnis kita. Di level kedua, kita bukan sekadar melibatkan mereka saja, tapi juga memonitor perubahan kehidupan yang terjadi setelah itu. Sampai kemudian di level ketiga, menghitung dampak dari diikutkannya masyarakat di dalam konsep bisnis secara luas. Misalnya saja, karena turut bekerja di usaha kita, warga satu desa sekarang pendapatannya meningkat sekian persen. 

Untuk mewujudkannya, teman-teman harus lebih berani untuk bercita-cita. Dan tentu saja, pantang menyerah. Sebab, sudah saatnya UKM naik kelas!

Sebagian artikel ini dilansir dari Webinar APINDO UMKM Akademi bertajuk ´”Berbisnis Dengan Hati dan Berdampak Sosial” yang bisa diakses melalui link ini

***

Sonia Fatmarani, Kontributor Penulis Tetap ukmindonesia.id

Referensi lainnya :

https://entrepreneur.bisnis.com