Memahami Bidang Usaha sesuai KBLI untuk Mengurus Perizinan

Artikel · Ulasan Bisnis
Lama Baca : 3 Menit

Suatu hari Mas Andi (bukan nama asli) bercerita bahwa Ia pernah repot mengurus perubahan dokumen perizinan saat ingin mengikuti suatu peluang tender terkait jasa pengembangan jaringan data komputer. Dokumen pendaftarannya ditolak, namun Ia masih beruntung karena staf pengelola tender mengabarkan bahwa perusahaan Mas Andi masih punya kesempatan mendaftar kembali jika memiliki bukti bahwa perusahaannya bergerak di bidang usaha jasa konsultasi komputer. Dalam hati Mas Andi, "lho, bukankah perusahaan saya bergerak di bidang itu!?". Penasaran Ia pun bertanya.

Mas Andi: "Maaf Mba, perusahaan saya memang bergerak di bidang jasa konsultasi komputer, lho!?"

Staf: "oh begitu ya, Pak? Soalnya di dokumen SIUP (Surat izin Usaha Perdagangan) tertulis bahwa nomor KBLI perusahaan Bapak justru bergerak di bidang perdagangan komputer."

Mas Andi: "hah, Masa iya, mba? KBLI itu apa, ya?"

Staf: "Ini, Pak". (sambil menunjukkan kode KBLI yang tertera di SIUP Mas Andi). "KBLI itu Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia. Jadi KBLI adalah sistem pengkategorian baku dari berbagai bidang kegiatan usaha. Di dokumen SIUP biasanya maksimal dicantumkan 3 kode KBLI 4 atau 5 digit. Nah, di dokumen bapak hanya ada 2 kode, yang pertama perdagangan komputer yaitu 4741, kedua jasa reparasi komputer, 9511. Jadi tidak ada yang sesuai dengan kriteria kami, yaitu KBLI 6202, untuk Konsultasi Komputer".

Mas Andi: "Woalaaaah, piye iki!"(sambil refleksi diri bahwa dulu waktu mendirikan PT ia memang hanya bilang "bisnis komputer" kepada notarisnya, dan sampai keseluruhan legalitas dan izinnya jadi, Ia tak pernah memeriksa seksama apa saja informasi yang tertera di dokumen-dokumen tersebut. Notarisnya juga tidak mengklarifikasi apa pun soal kode KBLI). "Hhmm, sekarang saya sebaiknya gimana ya, mba?"

Staf: "Begini, pendaftaran ditutup 1 minggu lagi. Kalau bapak bisa mengurus perubahan SIUP-TDP agar nomor KBLI yang dicantumkan sesuai dengan kriteria tender ini, silakan submit ulang pendaftaran. Urus langsung ke kantor pelayanan terpadu (PTSP) saja, Pak, saya dengar sekarang sudah bisa cepat pelayanannya. "

Mas Andi: "Oke mba, terima kasih, ya!" (langsung bergegas mengurus perubahan SIUP-TDP).

Kisah Mas Andi adalah contoh kasus betapa urusan pendaftaran tender bisa lebih lancar jika sejak awal Ia tahu mengenai KBLI. Sekarang, keperluan untuk memahami KBLI lebih tinggi, karena konon, dulu perusahaan dapat mencantumkan banyak kode KBLI di dalam SIUP, namun sekarang dibatasi maksimal hanya boleh 3 kode. Hal ini untuk mendorong agar perusahaan dapat membangun keahlian atau core expertise di bidang usaha tertentu. Mungkin dulu banyak sekali perusahaan palugada kali, ya? Tahu kan, palugada? Itu loh, “aPA LU mau GuA aDA”, perusahaan yang “serba bisa” di atas kertas namun pada praktiknya lebih bertindak seperti “calo proyek”.

Apakah Gojek perusahaan palugada? Tidak, karena Gojek adalah perusahaan teknologi informasi. Kemungkinan KBLI Gojek adalah tentang Aktivitas Pemrograman Komputer (6201). Hal ini karena kegiatan utama Gojek bukanlah menyediakan makanan, tukang pijat, tiket bioskop, kendaraan bermotor beserta supirnya, dll. Pekerjaan Gojek fokus pada pemrograman aplikasi digital yang dapat membuat konsumen/pengguna lebih mudah menemukan berbagai penyedia barang dan jasa. Jadi, Gojek sebenarnya perusahaan yang memiliki bidang usaha dan fokus yang jelas.

Bagaimana contoh perusahaan palugada? Misalnya sebuah perusahaan mengaku sebagai perusahaan perdagangan komputer, tapi juga pembuat video game, dan juga sebagai perusahaan produksi film, dan percetakan. Coba bayangkan, jika kita sedang mencari perusahaan vendor untuk membuatkan video company profile yang bagus, atau untuk membangun jaringan komputer di kantor kita, apakah kita akan bisa tenang memberikan pekerjaan kepada suatu perusahaan yang terlihat tidak fokus bidang usahanya?

Dalam mengembangkan usaha, pada satu titik tertentu pelaku UMKM memang harus mengurus legalitas atau perizinan usahanya. Misalnya saat ingin mengakses pinjaman perbankan atau dari investor dengan nilai di atas Rp500juta, umumnya legalitas dan perizinan usaha merupakan persyaratan. Begitu pula jika ingin ekspor, kerjasama dengan distributor besar, atau mengikuti berbagai peluang tender di berbagai instansi pemerintah dan perusahaan besar seperti yang dicontohkan di atas. Maka pastikanlah bahwa kita sudah mengetahui kode KBLI yang tepat sebelum mengurus legalitas dan perizinan usaha. Tidak semua notaris berinisiatif menggali kegiatan operasional kegiatan usaha klien. Tak jarang, kode KBLI yang dicantumkan merupakan hasil “dugaan” notaris, dan ini bisa merepotkan jika ternyata dugaannya tidak sesuai dengan kegiatan bisnis yang sebenarnya.

Agar terhindar dari masalah Mas Andi di atas, berikut beberapa tips:

  1. Luangkan waktu untuk memilah dan memilih kode KBLI yang paling tepat. Kini kita tak perlu lagi membedah Buku KBLI resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2015) untuk mengulik KBLI usaha, karena sudah ada cara yang lebih nyaman melalui fitur pencarian KBLI disini.
  2. Tentukan kandidat KBLI yang sesuai (5-10 misalnya), lalu diskusikan bersama mitra pendiri usaha untuk memilih hanya 3 kode KBLI 4-5 digit.
  3. Jadikan visi dan misi perusahaan sebagai kriteria utama dalam memilih KBLI. Kode yang dipilih tidak hanya harus menggambarkan bidang usaha yang dijalankan saat ini, tapi juga yang berkaitan dengan rencana ekspansi usaha. Hal ini penting agar perusahaan tidak perlu sering-sering melakukan perubahan dokumen perizinan seperti Mas Andi tadi.
  4. Inovasi membuat corak kegiatan operasional usaha semakin beragam dan bisa jadi belum tergolongkan secara khusus di dalam KBLI. Contohnya, perusahaan fashion line (pakaian bermerek) yang fokus kegiatannya adalah membuat desain berbagai jenis pakaian dan atribut pendukungnya dari anting-anting, topi, sepatu, jaket, scarf, baik yang berbahan kulit atau tekstil; sementara proses produksinya disub-kontrakkan ke beberapa perusahaan vendor. Karena perusahaan tidak melakukan kegiatan produksi sama sekali, maka KBLI 14302 (industri pakaian) tidaklah pas. Fokus perusahaan adalah di kegiatan pembuatan desain, kontrol kualitas atas hasil produksi vendornya (Quality Control atau QC), dan memasarkan produk dengan brand tersendiri. Sehingga menurut pengamatan penulis, KBLI 4771 (perdagangan eceran khusus pakaian, sepatu, dan barang dari kulit di toko) lebih sesuai. Pendeknya, jika tidak menemukan KBLI yang pas, silakan pilih yang mendekati.

KBLI disusun oleh BPS dengan merujuk pada International Standard Industrial Classification if All Economic Activities (ISIC) oleh United Nations of Statistical Division (UNSD), lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa divisi statistik (https://unstats.un.org/home/). Dua digit pertama KBLI menunjukkan golongan pokok bidang usaha - misalnya, 46 adalah perdangan besar, dan 47 adalah perdagangan eceran - yang kemudian dirinci ke cabang-cabang usaha yang lebih spesifik menjadi KBLI 3 sampai 5 digit. Standar ini berlaku global, sehingga mengetahui kategori KBLI sebenarnya dapat memudahkan kita dalam bergaul dengan komunitas bisnis internasional.

Misalnya, sebuah perusahaan bisa saja “menjual” dirinya sebagai konsultan komputer. Hal ini tentu kurang jelas, karena dunia komputer sangatlah luas. Dengan merujuk KBLI, perusahaan dapat lebih jelas menyampaikan bidang keahliannya dengan mengatakan bahwa bidang usahanya adalah KBLI 6201, maka perusahaan akan dipersepsikan sebagai ahli di bidang pemrograman aplikasi atau software komputer; kalau 4741 maka dapat dipersepsikan sebagai perusahaan perdagangan komputer dan perangkatnya. Bagi calon mitra internasional, hal ini memudahkan karena mayoritas kode di KBLI sama dengan ISIC sebagai rujukan internasional. Berdasarkan ISIC revisi ke-4 yang terbaru, 6201 adalah computer programming activities dan 4741 adalah retail sale of computers, peripheral units, software, and telecommunications equipment. Nah, sama kan dengan pengkategorian di KBLI? Jadi jika kita memiliki cita-cita untuk go internasional, tentu kita akan memerlukan mitra dari perusahaan internasional. Dengan demikian, memahami KBLI menjadi semakin penting bagi perusahaan kita untuk naik kelas!


Referensi: Foto oleh Tumisu dari Pixabay


Penulis: Dewi Meisari Haryanti; Editor: Hilda Fachrizah
2018-07-24 12:43:33

Konten Terkait

Kamus Bisnis

Reseller

Apa itu reseller? Bagaimana cara kerja reseller? Reseller adalah orang yang membeli produk dari para berbagai pihak lain, bukan untuk dikonsumsi atau digunakan sendiri, melainkan untuk dijual kembali dengan tujuan memperoleh keuntungan dari hasil penjualan tersebut.

2018-07-24 07:34:05

Kamus Bisnis

Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk Usaha Produksi

Beberapa pelaku usaha produksi makanan minuman, kerajinan atau lainnya terkadang heran. Tingkat produksi sudah hampir kapasitas optimal dan 90% ludes terjual, tetapi kenapa mereka merasa kok keuntungan yang diraih sangat rendah, ya? Banyak pelaku UKM usaha produksi yang menentukan harga jual tanpa tau berapa sebenarnya HPP dari produk yang dijual. Apa itu HPP Usaha Produksi dan bagaimana cara menghitungnya?

2018-07-27 17:43:31

Ulasan Bisnis

Potret UMKM Indonesia: Si Kecil yang Berperan Besar

Dari namanya UMKM memang memiliki kepanjangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), namun jangan salah si kecil ini memiliki kontribusi yang sangat besar dan krusial bagi perekonomian kita secara makro.

2018-07-24 21:57:32

Kamus Bisnis

Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) Untuk Usaha Dagang

Pelaku usaha bidang perdagangan, umumnya pernah mengalami peningkatan intensitas kegiatan setiap harinya karena kuantitas penjualan mengalami peningkatan. Namun disaat yang sama, bisa jadi juga merasakan, “kok rasanya kenaikan omzet usaha tidak sebanding dengan peningkatan kesibukan yang terjadi ya?” Apalagi jika dibandingkan dengan keuntungan bersih yang didapatkan, “kok rasanya keuntungan atau laba bersih yang dirasakan sangat rendah ya?”.

2018-07-24 07:59:02