UKM Indonesia

Sebelum Mengekspor, UKM Perlu Memperhatikan Ini


Gambar diambil dari intradebook.com

Kegiatan ekspor atau mengirimkan barang ke negara lain memang belum begitu akrab di telinga pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Minimnya informasi tentang kondisi pasar luar negeri, rumitnya mengurus perizinan ekspor, dan modal yang cukup besar merupakan sejumlah penghalang yang menghambat pelaku UKM untuk mengekspor barang.

Eksportir dari kalangan UKM jumlahnya masih sangat minim. Dalam infografis Fakta Ironis Ekspor UKM Indonesia, proporsi ekspor UKM Indonesia hanya sebesar 14,3%. Komposisi ini kalah jauh dari negara-negara ASEAN lain seperti Filipina (29%), Vietnam (21%), Thailand (29%), Singapura (46%). Padahal, Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbesar di ASEAN dan UKM memainkan peran vital bagi perekonomian, antara lain sebagai usaha berskala besar (99%), penyerap tenaga kerja (97%), dan berkontribusi pada PDB nasional (60%).

Apakah mungkin pelaku bisnis berskala kecil dan menengah bisa mengekspor barang ke luar negeri? Artikel Tips Bisnis ini akan membahas dari narasumber yang memiliki pengetahuan di bidang ekspor antara lain: Rimayanti Wardani (Owner Dapur Nice Momy), Kang Azis (Koperasi UKM Blitar, eksportir produk UKM), dan Muhamad Mudhofir (Branch Manager Bengkulu PT. Asuransi Jasindo).

Pada kesempatan tersebut, Rima dan Kang Azis yang merupakan pelaku UKM, membagikan pengalamannya mengekspor barang ke luar negeri. Ada beberapa hal yang perlu diupayakan, antara lain :

1. Memastikan Kualitas Produk

Dalam memperdagangkan barang dan jasa, kualitas barang adalah hal yang utama. Jika barang yang dijual tidak bisa memenuhi harapan, konsumen bisa kapok dan berpindah ke lain hati. Itu dalam contoh sederhana. Kalau dalam perdagangan antar negara, harus lebih serius lagi. Sebab kalau barang yang diterima tidak sesuai permintaan buyer, seisi kontainer bisa dikembalikan. Perdagangan ekspor memang menguntungkan, tetapi juga beresiko besar.

Di awal-awal memulai usaha, Rima pernah mendapat permintaan ekspor perdana dari seorang buyer asal Amerika Serikat. Buyer tersebut memesan 3.000 botol sambal Roa Judes dan Rima harus memenuhi permintaan tersebut dalam waktu tiga minggu. Menurut Rima, jika yang diperdagangkan berupa makanan, produknya harus memiliki cita rasa yang enak dan memenuhi standar keamanan pangan sesuai negara tujuan.

Rima berusaha menjaga kualitas sambal dengan menetapkan standar operasional produksi agar rasa sambal terjaga. Konsistensi ini penting bagi setiap produk makanan agar rasa tidak berubah sehingga menyebabkan pelanggan kecewa.

Berbeda dengan Rima, Kang Azis menjadi penyalur produk-produk UKM Blitar ke sejumlah negara Asia seperti Hongkong dan Singapura. Sebagian besar produk yang diperdagangkan adalah cemilan seperti keripik pisang, keripik singkong, kerupuk, dll. Kang Azis memang bukan yang memproduksi langsung, tetapi sebagai penyalur, ia bertanggung jawab memastikan semua produk yang dijual ke luar negeri dalam kondisi baik.

Untuk itu, sebelum ada pelaku UKM yang mengikuti pengiriman ekspor ke luar negeri, Kang Azis memberikan arahan kriteria produk-produk yang diminati konsumen negara tujuan ekspor dan menjelaskan tentang bagaimana cara mengemas yang tepat sehingga produk tidak rusak selama pengiriman.

Kang Azis juga memiliki partner distributor yang membuka toko dan mengedarkan produk-produk UKM di Hongkong. Pemilik toko tersebut kebetulan orang Blitar yang sukses membangun bisnis di sana. Untuk menjamin dan menjaga kualitas pasokan produk, ia pun turut serta memberi feedback kepada mitra UKM yang rutin memasok produk ke tokonya.

2. Melengkapi Perizinan Produk

Selain produk yang berkualitas, pelaku UKM yang ingin mengekspor barang harus memperhatikan apa jenis perizinan yang perlu dipenuhi sebelum barang bisa beredar di negara tujuan. Masing-masing negara memiliki syarat perizinan dan standar pengemasan yang berbeda-beda.

Rima membagikan pengalamannya saat mengekspor sambal Roa Judes ke Amerika Serikat. Syarat menjual produk makanan olahan ke negara itu cukup ketat sehingga Rima perlu mendaftarkan produknya ke Food and Drugs Administration (FDA) yang berperan sebagai Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat. Memperoleh sertifikat dari FDA adalah syarat wajib yang harus dipenuhi agar produk makanan bisa beredar di negara itu. Beruntung saat itu, buyer yang memesan Roa Judes membantu proses pengurusan izin edar ke FDA sehingga Rima bisa fokus memproduksi sambal roa.

Berbeda dengan memasarkan produk di Amerika Serikat, memasarkan produk kepada orang Indonesia di Hongkong ternyata prosesnya cukup sederhana. Karena tempat penjualan sudah tersedia dan konsumen produk kebanyakan orang Indonesia yang menjadi tenaga kerja di sana, maka produk yang diperjualbelikan harus sudah memiliki izin edar P-IRT. Kang Azis menjelaskan bahwa izin edar produk makanan wajib dimilki setiap UKM yang ingin mengekspor barang agar produk terbukti aman dikonsumsi.

Catatan penting yang diperoleh di sini, sebelum mengekspor barang ke luar negeri, pelaku UKM harus mencari tahu terlebih dahulu syarat perizinan apa yang harus dipenuhi di negara tujuan. Karena setiap negara memiliki syarat yang berbeda-beda, maka penting mencari informasi perizinan yang wajib diperoleh agar proses perdagangan berjalan lancar.

3. Menyiapkan Kemasan yang Sesuai Standar

Mendesain kemasan yang menarik merupakan salah satu kunci strategi pemasaran. Kemasan yang baik tidak hanya menunjang estetika tetapi juga menjaga kualitas produk yang akan ditawarkan kepada konsumen. Baik untuk penjualan ekspor maupun domestik, memastikan produk dikemas sesuai standar keamanan itu wajib dilakukan oleh setiap pelaku UKM. Selain fungsi estetis, kemasan produk juga memiliki fungsi informatif yang berarti memberikan informasi kepada konsumen tentang jenis, rasa, kandungan, nilai gizi, perusahaan yang memproduksi, dan tanggal kedaluwarsa.

Saat pertama kali diminta mengirimkan Roa Judes ke Amerika Serikat, Rima harus memikirkan desain kemasannya dengan detail. Menurutnya, produk tidak boleh asal jual. Produk yang berkualitas harus dilengkapi dengan kemasan yang menarik sebagai nilai tambah. Rima bercerita bahwa ia sendiri yang mendesain logo, tampilan kemasan, dan menyusun tata letak informasi produk sesuai dengan standar negara tujuan.

Fungsi kemasan yang lain adalah sebagai pelindung yaitu agar produk yang berada dalam kemasan tidak menurun kualitas bentuk dan rasanya. Kang Azis menjelaskan bahwa salah satu resiko yang mungkin terjadi saat mengekspor barang adalah produk bisa mengalami kerusakan karena panas dan tekanan selama perjalanan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kang Azis memberikan panduan tentang pengemasan yang aman kepada mitra UKM sebelum mengirimkan produk ke luar negeri. Produk makanan olahan haruslah dikemas dengan plastik khusus makanan ringan, ditempeli label yang berisi informasi makanan dan identitas pemilik usaha. Informasi identitas pemilik usaha wajib ditempelkan agar agen/distributor penjual di luar negeri mudah menghubungi jika ingin memesan lagi.

4. Mengantisipasi Resiko yang Sudah Terprediksi Dengan Perlindungan Asuransi

Selain itu, penting untuk memberlakukan asuransi bagi ekspor, yang dijelaskan oleh Muhammad Mudhofir dari Asuransi Jasindo. Ia mengingatkan bahwa selama menjalani usaha, akan ada resiko yang dihadapi pelaku usaha seperti terjadinya kebakaran tempat produksi, kecelakaan kerja, dan rusaknya kendaraan pengangkut distribusi. Resiko-resiko semacam itu jelas menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi pemilik usaha.

Prinsip dasar asuransi adalah mengalihkan dan memindahkan resiko ke pihak lain dengan membayar premi selama periode tertentu. Dengan kata lain, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, perusahaan asuransi akan mengganti kerugian tersebut sehingga pelaku usaha tidak perlu menggunakan tabungan atau meminjam uang kepada pihak lain.

Terdapat asuransi pengangkutan yang memberikan jaminan dan perlindungan untuk kerusakan kargo dalam perjalanan darat, udara, dan laut. Mudhofir memberi contoh kecelakaan kapal pengangkut yang menyebabkan semua kontainer dalam muatan kapal tenggelam ke laut. Jika semua barang rusak, bayangkan berapa kerugian yang harus diderita oleh pelaku usaha. Asuransi pengangkutan bisa mengcover kerugian yang ditimbulkan apabila terjadi kecelakaan kendaraan angkut yang menyebabkan barang-barang rusak.

5. Menyiasati Pembayaran yang Menguntungkan

Ketika mendapat penawaran dari pembeli luar negeri dalam jumlah besar, seringkali pelaku UKM mengelak karena tidak memiliki modal usaha untuk berproduksi. Padahal masalah semacam ini bisa disiasati dengan bernegosiasi.

Proses negosiasi yang menguntungkan ini pernah dilakukan oleh Rima ketika mendapat penawaran 3.000 botol sambal roa dari buyer Amerika Serikat. Saat itu Rima tidak memiliki modal cukup untuk membeli bahan baku sambal roa. Cara ini ia siasati dengan bernegosiasi kepada pihak pembeli agar membayar dulu separuh dari nilai pembelian. Sementara sisanya dilunasi setelah pesanan selesai diproduksi. Pihak pembeli akhirnya setuju sehingga Rima mendapatkan separuh pembayaran di awal yang kemudian ia gunakan untuk membeli bahan baku sambal roa.

Demikian halnya Kang Azis, ia menjelaskan bahwa kelancaran arus kas itu sangat penting bagi mitra UKM Blitar yang rata-rata masih berskala mikro. Kalau perusahaan mikro, modalnya terbatas sehingga sangat bergantung pada kelancaran arus kas. Karena alasan tersebut, Kang Azis memberikan persyaratan kepada buyer dari luar negeri untuk memproses pembayaran setelah barang dipesan. Umumnya, ketika barang dipesan, pembayaran langsung ditransfer oleh buyer dalam 2-3 jam kemudian.


Demikian pembahasan kita mengenai tips UKM bisa ekspor. Kesimpulan yang bisa kita ambil adalah ternyata untuk bisa berhasil mengekspor, tidak cukup hanya dengan kita menawarkan produk kita ke luar. Namun kita harus memastikan kualitas, melengkapi perizinan, menyiapkan kemasan, hingga mengantisipasi resiko dengan asuransi.

Dari Rima dan Kang Azis kita belajar bahwa tidak ada yang mustahil bagi usaha berskala kecil dan menengah mengekspor barang ke luar negeri. Tips-tips usaha dari pengalaman keduanya adalah inspirasi berharga yang dapat kita ikuti jika ingin meraih dan membesarkan pundi-pundi keuntungan di pasar global.

Semoga artikel Tips Bisnis ini dapat menambah pengetahuan ekspor sahabat UKM. Teman-teman bisa menyimak lebih detail di webinar Bincang Bisnis. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang ekspor, ukmindonesia.id juga sudah menyediakan banyak artikel Ekspor-Impor. Salah satunya adalah UKM Bisa Siap Ekspor dengan Kenali 8 Hal ini. UKM siap ekspor!

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: