Bank Infaq Solusi Kebangkitan UMKM ditengah Pandemik COVID-19

Artikel · Akses Modal
Lama Baca : 7 Menit

Sudah lima bulan lamanya sejak kasus pandemik Covid-19 pertama kali mencuat di Indonesia. Hal ini berarti, sudah lima bulan pula lamanya sahabat UKM tengah berjuang menjalankan usahanya. Riset dari Asosiasi BDS Indonesia (ABDSI, 2020), menunjukkan bahwa setidaknya sebanyak 7.994 UMKM diberbagai wilayah Indonesia yang turut serta dalam pendataan partisipatif UMKM terdampak pandemik Corona.


Sumber: Kolaborasi Multipihak dalam Penanganan Dampak Ekonomi Pandemik Covid-19 (ABDSI, 2020)

Para ahli telah sepakat menyebutkan bahwa pandemik ini telah menjadi krisis multidimensi. Yang awalnya berupa krisis kesehatan telah berkembang menjadi krisis sosial, dan bahkan krisis ekonomi. Itulah mengapa UMKM juga turut merasakan dampak dengan adanya pandemik COVID-19 ini. Karena ini merupakan krisis multidimensi, maka dibutuhkan pula solusi yang bersifat holistik. Apa solusi holistik yang dibutuhkan oleh Sahabat UKM? Apakah Bank Infaq dapat menjadi salah satu alternatif solusi tersebut dan bagaimana caranya? Mari kita simak pembahasan berikut.


Kondisi UMKM di Indonesia Pra COVID-19

Disampaikan oleh Ibu Hilda Fachrizah, co-Founder UKMIndonesia.id dalam sebuah webinar bertajuk Bank Infaq Solusi Kebangkitan UMKM yang diusung oleh Start-up pengembangan wakaf di Indonesia yaitu Tanam Amal, bahwa ditahun 2018, Indonesia memiliki lebih dari 64 juta UMKM yang terus bertambah jumlahnya hingga saat ini, dimana penyerapan tenaga kerjanya sebesar 97% dari seluruh tenaga kerja di Indonesia.

Dari angka yang besar tersebut, sayangnya baru sekitar 0.01% dari 64 juta UMKM atau setara dengan 5.000 unit usaha yang berada pada level Usaha Besar. Ironinya, struktur ini tidak banyak berubah sejak 10 tahun lalu Sahabat UKM. Dan jika kita bandingkan dengan negara lain, angka ratio Usaha Besar ini masih tergolong rendah, dimana negara Uni Eropa di angka 0.2%, Jepang 0.3%, China 0.4%, dan Malaysia yang tidak lain adalah negara tetangga dekat kita sudah mampu menembus angka 1.5%. Jika Indonesia mau meningkatkan angka ratio Usaha Besarnya dari 0.01% menjadi 0.2% seperti negara Uni Eropa, maka jumlah unit Usaha Besar kita harus bertambah, dari yang semula berjumlah 5.000 unit menjadi 120.000 unit Usaha Besar.

Disisi lain, ditemukan fakta bahwa 98.68% dari 64 juta UMKM tersebut masih berada pada level Usaha Mikro yang self employed. Bahkan lebih jauh, secara umum diketahui rata-rata pendapatan UMKM di Indonesia sebesar 83.7 juta per tahun atau setara dengan 7 juta per bulan. Berdasarkan Undang – Undang di Kementrian Koperasi dan UKM, angka tersebut masih termasuk dalam level Usaha Ultra Mikro. Selain itu, secara umum serapan tenaga kerjanya pun hanya 1.7 orang. Hal ini berarti, 1 pengusaha hanya mempekerjakan 1.7 orang. Lebih jauh lagi, manajemen UMKM di Indonesia masih bersifat tradisional, hanya bertransaksi tunai, tidak ada pencatatan keuangan dan SOP.

Jika dianalisis lebih lanjut, penyebab mengapa mayoritas UMKM di Indonesia masih berada pada level Mikro dan Ultra Mikro, antara lain sulit pasar dan sulit modal. Sulit pasar disini berkaitan dengan terbatasnya kemampuan manajemen usaha, seperti branding, promosi, dan kemasan yang kurang baik. Disisi lain, UMKM juga merasa sulit modal. Hal ini berkaitan dengan banyaknya UMKM yang tidak punya rekam jejak pencatatan keuangan yang baik. Bahkan, banyak kita temukan UMKM yang masih mencampurkan keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga. Dengan kondisi seperti ini, akan sulit rasanya UMKM bisa mendapat permodalan dari lembaga atau institusi keuangan formal.

Selain itu, masalah formalitas juga menjadi penyebab sulitnya permodalan bagi UMKM, seperti banyaknya usaha yang tidak memiliki badan usaha atau berbadan hukum, tidak berizin, dan tidak terdaftar resmi dimanapun.

Sahabat UKM, sekarang kita sudah mengetahui gambaran besar bagaimana kondisi UMKM di Indonesia sebelum terjadinya COVID-19. Sudah cukup menantang bukan? Setelah ini kita akan lihat apakah COVID-19 memberikan dampak negatif yang besar untuk kondisi UMKM di Indonesia? Yuk kita simak lagi ceritanya.


Kondisi UMKM di Indonesia selama COVID-19

Pandemik COVID-19 memberikan efek kejut untuk UMKM di Indonesia. Data dari ABDSI (2020), menyatakan bahwa 96.3% UMKM mengalami penurunan permintaan pasar. Sisanya yaitu 3.7%, merupakan akumulasi dari temuan bahwa tidak adanya perubahan dalam permintaan pasar atau bahkan adanya lonjakan dalam permintaan pasar. Adapun permintaan pasar yang melonjak biasanya berhubungan dengan kebutuhan kesehatan, seperti masker, vitamin, dan hand sanitizer. Selain kebutuhan kesehatan, kebutuhan makanan khususnya makanan beku atau frozen food juga termasuk dalam permintaan pasar yang melonjak.


Sumber : Kolaborasi Multipihak dalam Penanganan Dampak Ekonomi Pandemik Covid-19 (ABDSI, 2020)

Selain itu, didapatkan pula fakta bahwa pandemik COVID-19 berimbas pada nilai transaksi usaha. Data dari ABDSI (2020), mayoritas unit usaha yaitu sebesar 36.7% menyatakan bahwa tidak ada penjualan sama sekali; disusul dengan 26% unit usaha yang penjualannya turun lebih dari 60%; 15% unit usaha yang penjualannya turun 31 hingga 60%; dan 14.2% unit usaha yang penjualannya turun sebesar 10 hingga 30%. Adapun sisanya, yang berjumlah minoritas sebesar 8.1% yang menyatakan bahwa nilai transaksi usahanya sama dengan sebelum terjadi pandemik atau bahkan lebih tinggi.


Sumber : Kolaborasi Multipihak dalam Penanganan Dampak Ekonomi Pandemik Covid-19 (ABDSI, 2020)

Lebih jauh, didapatkan pula fakta terkait kendala dalam pengembalian pinjaman karena pandemik Covid-19. Data dari ABDSI (2020), minoritas unit usaha yaitu sebesar 7.4% menyatakan bahwa tidak ada kendala dalam pengembalian pinjaman. Selebihnya, tentu mengalami kendala Sahabat UKM. Secara lebih rinci, Sahabat UKM dapat melihat chart berikut.


Sumber : Kolaborasi Multipihak dalam Penanganan Dampak Ekonomi Pandemik Covid-19 (ABDSI, 2020)

Teman-teman, sekarang kita sudah mengetahui seberapa besar pandemik COVID-19 berimbas pada UMKM di Indonesia. Lalu apa solusi yang dapat dioptimalkan oleh Sahabat UKM? Pada dasarnya, ada berbagai program yang disiapkan oleh pemerintah untuk membantu UMKM yang terdampak COVID-19, antara lain penundaan angsuran pokok dan bunga untuk UMKM dan Ultra Mikro (Umi), subsidi bunga kredit untuk UMKM dan UMi, penjaminan kredit modal kerja, insentif perpajakan untuk UMKM, dan prioritas penyerapan produk UMKM oleh Kementrian dan BUMN.

Selain program-program pemerintah diatas, ada satu alternatif solusi lagi yang dapat dioptimalkan oleh UKM. Solusi tersebut ditawarkan oleh Bank Infaq. Untuk mengetahui apa itu Bank Infaq dan manfaat apa yang bisa diberikan untuk UMKM, mari kita simak ceritanya.


Berkenalan dengan Bank Infaq dan Perannya dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Saat dan Pasca Krisis COVID-19

Bapak Sandiaga Salahudin Uno atau yang akrab disapa Bang Sandi, selaku Dewan Pembina Bank Infaq, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengelolaan Zakat Infaq dan Sodaqoh (ZIS). Besar potensi ZIS tersebut lebih dari 300 Triliun. Namun, target yang dicanangkan untuk di-collect atau dikumpulkan sebelum pandemik COVID hanya 10 Triliun. Jumlah ini bahkan jauh lebih rendah dibanding bea cukai rokok yang dibayar oleh masyarakat kita, yaitu sebesar 165 Triliun.

Disisi lain, Indonesia menempati ranking pertama dalam World Giving Index di tahun 2019, atau sebagai negara yang paling dermawan di muka bumi. Oleh karenanya, melalui Bank Infaq, Bang Sandi ingin membangkitkan kembali semangat berinfaq di tengah masyarakat kita. Belum lagi ditunjang adanya 800 ribu masjid atau lebih dari 2,5 juta tempat ibadah yang terdiri dari masjid, mushala, pesantren, dan lain sebagainya. Hal ini tentu menjadi potensi yang sangat besar bagi pengembangan Bank Infaq di Indonesia.

Meskipun menggunakan nama “bank”, Bank Infaq memiliki konsep yang jauh berbeda dengan bank yang selama ini kita kenal. Disampaikan oleh Pak Rezza Artha selaku Pembina Bank Infaq, secara makna, bank adalah sesuatu yang berfungsi menghimpun dan menyalurkan atau berfungsi sebagai intermediary. Begitu pula dengan Bank Infaq, yang menghimpun infaq dan menyalurkannya dalam bentuk pinjaman tanpa bunga kepada masyarakat. Fenomena ini serupa dengan bank sampah ataupun bank wakaf, dimana konsepnya juga melakukan penghimpunan dan penyaluran.

Memadukan nama “bank” dan “infaq” dipilih sebagai branding strategy. Keduanya yang terkesan berbeda 180 derajat, ternyata memiliki brand equity yang kuat ketika disatukan. Infaq yang terkesan diwakili oleh uang receh atau uang dengan nominal kecil, berbanding terbalik dengan bank yang identik dengan penyimpanan uang dengan jumlah yang besar. Belum lagi infaq yang biasa diasosiasikan dengan petugas masjid dengan tampilan sederhana, berbanding terbalik dengan bank yang identik dengan orang-orang berdasi dan rapi dalam melayani pelanggan. Namun lagi-lagi, ketika kedua nama ini disatukan, ternyata memberikan efek yang powerful.

Bank Infaq tidak berbadan hukum PT, melainkan yayasan amil infaq atau baitul mal. Legalitasnya berada di bawah Yayasan Gerakan Infaq Dunia, yang merupakan salah satu program unggulan dari Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) yang bertujuan khusus memerangi riba. Bank Infaq merupakan lembaga pemberdayaan umat yang bersifat gerakan sosial, dan berprinsip sesuai syariah dan berasas tolong-menolong. Diresmikan sejak 10 April 2019 di Gelora Bung Karno Jakarta, saat ini Bank Infaq telah hadir lebih dari 53 cabang di 13 provinsi. Dalam praktiknya, Bank Infaqberbasis komunitas. Bisa berangkat dari komunitas di Masjid, Pesantren, di lingkungan rumah, kantor, atau bahkan dimanapun. Karena berbasis komunitas, maka pengurus Bank Infaq kelak juga akan dipilih oleh anggota komunitas tersebut yang dirasa paling memiliki integritas. Sehingga, Bank Infaq ini murni gerakan sosial dari masyarakat untuk masyarakat.

Mimpi besar yang digagas Bang Sandi dan Pak Rezza melalui Bank Infaq adalah menyediakan sebuah platform untuk pengelolaan infaq yang tentunya menerapkan Islamic social finance atau syariah complied. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, Bank Infaq melakukan penghimpunan infaq dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman tanpa bunga. Masyarakat yang disasar oleh Bank Infaq salah satunya ada Sahabat UKM, khususnya yang berada di level Mikro dan Ultra Mikro.

Mimpi ini hadir karena banyaknya realita di lapangan yang dialami khususnya oleh masyarakat menengah ke bawah atau pegiat UKM yang terjerat hutang kepada bank keliling atau yang biasa kita sebut dengan rentenir. Mengapa harus meminjam ke rentenir? Hal ini berhubungan dengan sulitnya akses permodalan yang telah kita singgung sebelumnya. Minimnya rekam jejak pencatatan keuangan yang baik membuat pegiat UKM tidak bankable. Oleh karena itu, pegiat UKM tersebut tidak mungkin mendapat suntikan modal dari lembaga keuangan formal.

Lebih lanjut, mau tidak mau mereka meminjam modal kepada para rentenir. Skema bunga yang sangat tinggi membuat masyarakat atau pegiat UKM yang tengah kesulitan justru menjadi semakin sulit dan tercekik ketika berhubungan dengan bank keliling ini. Bahkan ditemui adanya rentenir yang mematok bunga sebesar 1.095% setahun atau 3% per hari. Oleh karenanya, sistem tanpa bunga yang diusung oleh Bank Infaq, selain upaya untuk melepaskan masyarakat dari riba, juga diharapkan mampu menjadi solusi bagi masyarakat menengah kebawah maupun pegiat UKM dilevel Mikro dan Ultra Mikro yang membutuhkan pembiayaan, terlebih ketika pandemik COVID-19.

Pandemik COVID-19 membuat banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan, dimana disampaikan oleh Bang Sandi bahwa jumlah yang di PHK mencapai 29 juta orang atau hampir 10% dari total populasi Indonesia atau bahkan hampir 30% dari total angkatan kerja di Indonesia. Ini merupakan angka yang sangat fantastis. Oleh karenanya, beralih menjadi entrepreneur bisa menjadi salah satu alternatif yang dapat diperhitungkan. Namun demikian, likuiditas bagi calon entrepreneur tersebut atau bahkan yang telah lama menjadi entrepreneur tetap menjadi masalah yang harus dicari jalan keluarnya. Untuk itu, Bank Infaq hadir di tengah masyarakat sebagai solusi akses likuiditas di tengah pandemik COVID-19.

Dalam menghadapi krisis akibat pandemik COVID-19, kesiapan finansial bukanlah satu-satunya hal yang harus disiapkan. Kematangan mental dan spiritual juga merupakan pondasi yang tidak kalah penting. Hal ini pula lah yang turut menjadi perhatian Bank Infaq. Oleh karena itu, duniawi dan ukhrawimenjadi dua pendekatan yang digunakan Bank Infaq. Karena bentuk aktivitas Bank Infaq adalah majelis taklim atau kelompok pengajian, maka disinilah pendekatan ukhrawi dan duniawi dibina. Konsep inilah yang diusung Bank Infaq sebagai solusi yang bersifat holistik untuk masyarakat. Adapun pembinaan dan pemberdayaan tersebut dilakukan melalui 5 tahapan, yaitu:

  • Tahap pertama : mengaji (spiritual)
  • Tahap kedua : berinfaq (spiritual)
  • Tahap ketiga : bebas riba (spiritual dan ekonomi)
  • Tahap keempat : fundamental usaha (ekonomi)
  • Tahap kelima : scale up usaha (ekonomi)

Melalui lima tahapan tersebut, maka hal konkrit yang dilakukan Bank Infaq selama masa pandemik COVID-19 ini, antara lain:

  • Melaksanakan kegiatan kajian untuk memperkuat mental dan spiritual anggota
  • Melakukan program pemberdayaan sehingga memberikan solusi usaha dan penguatan fundamental usaha hingga scale up
  • Menyediakan permodalan mikro tanpa riba dengan maksimal modal 5 juta per orang
  • Memberikan 3 fasilitas yang dapat dinikmati secara gratis oleh anggota, yaitu pendampingan dari sejak pendirian Bank Infaq di komunitas; SOP dan aplikasi; dan pengawasan dari aplikasi pusat Bank Infaq yang dapat memonitor secara real time kondisi infaq di setiap cabang

Bagaimana Sahabat UKM, menarik bukan konsep yang diusung oleh Bank Infaq. Dan seperti cita-cita besar Bang Sandi dan Pak Rezza, semoga Bank Infaq dapat hadir menjadi solusi bagi seluruh masyarakat menengah kebawah, khususnya pegiat UKM di level usaha Mikro dan Ultra Mikro yang membutuhkan likuiditas, terlebih di tengah Pandemik COVID-19. Tertarik untuk menjadi anggota atau bahkan mendirikan Bank Infaq di komunitas yang Sahabat UKM miliki? Jika iya, Sahabat UKM dapat menghubungi Bank Infaq melalui WA ke nomor 0818-0408-4007 atau melalui email ke [email protected].


Nikita Puspita Ing Endit, Dosen STEI Indonesia dan Mentor Business Coaching Magister Manajemen Universitas Indonesia


Referensi:

ABDSI (2020): Kolaborasi Multipihak dalam Penanganan Dampak Ekonomi Pandemik Covid-19.

Youtube Bank Infaq (2020): Apa Itu Bank Infaq?

Youtube Tanam Amal (2020): Tanam Amal Talkshow Series 3 – Bank Infaq Solusi Kebangkitan UMKM

Penulis: Nikita Puspita Ing Endit
2020-09-05 14:22:15
Konten Terkait

Kamus Bisnis

Jaminan atau Agunan

Jaminan, atau disebut juga dengan Agunan, adalah suatu Aset yang dijanjikan Peminjam (pemilik usaha) kepada Pemberi Pinjaman sebagai tanggungan atas pinjaman yang diterima. Jika di kemudian hari Peminjam gagal untuk melunasi hutangnya, maka Pemberi Pinjaman dapat memiliki atau menjual Aset yang dijanjikan tersebut untuk menutupi kerugian. Suatu Jaminan harus memiliki total nilai yang sama atau lebih besar dari total nilai pinjaman.

2020-01-06 23:34:49

Ulasan - Bisnis Umum

Menyusun Rencana Usaha Sederhana

Rencana Usaha adalah rute perjalanan yang telah kita pilih setelah membuka tebaran peta yang luas. Kita mesti sadar dimana titik awal keberangkatan kita memulai, dan kemana pula kita ingin menuju atau titik destinasi kita. Banyak jalan menuju Roma. Jadi, di dalam rencana usaha, tak cukup kita hanya menentukan destinasi, tapi juga rute mana yang akan kita pilih untuk mencapai tujuan tersebut.

2019-12-20 09:52:42

Akses Pasar

6 Strategi UMKM dalam Melakukan Identifikasi Pesaing

Apapun industri yang dimasuki oleh Sahabat UKM, tentu tidak luput dari yang namanya pesaing. Dalam hal ini, sangat penting rasanya kita melakukan identifikasi pesaing. Apa itu strategi identifikasi pesaing dan bagaimana langkah-langkah dalam melakukan identifikasi pesaing akan kita bahas di artikel kali ini ya.

2021-07-25 21:03:40

LAMIKRO: Aplikasi Pencatatan Keuangan a la KemenkopUKM RI

Akses Teknologi

Gratis

Bagi Anda yang baru pertama kali membangun bisnis, membuat laporan keuangan mungkin memang membingungkan. Tapi pemerintah kini memberikan Anda kemudahan dalam membuat laporan keuangan untuk bisnis Anda.Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) meluncurkan aplikasi Laporan Akuntansi Usaha Mikro (Lamikro) untuk para pelaku usaha mikro yang baru memulai usaha atau wirausaha pemula. Lamikro adalah aplikasi pembukuan akuntansi sederhana untuk usaha mikro yang bisa digunakan melalui smartphone dengan sistem operasi Android.

Selalu Berjalan