Keberhasilan Ekspor Rorokenes Menggunakan Prinsip Sustainability

Artikel · Ekspor Impor
Lama Baca : 5 Menit

Bagaimana menciptakan nilai keunggulan unik yang ditawarkan (value proposition) untuk sukses di pasar ekspor?

Sahabat UKM, nilai keunggulan itu tidak semerta-merta dapat tercipta dengan sendirinya. Kita harus terus belajar apa yang dibutuhkan oleh konsumen global saat ini. Salah satu kebutuhan yang umum saat ini adalah prinsip sustainability. Kali ini kita akan belajar dari Rorokenes yang sudah memanfaatkan komunikasi sustainability ini dalam menembus pasar ekspor. Mbak Syanaz, sebagai pendiri dan pemilik Rorokenes, akan sharing mengenai pengalamannya kepada para sahabat UKM.

Latar Belakang Rorokenes

Mbak Syanaz memulai usaha Rorokenes sejak 2014 di Semarang. Motivasi memulai usaha dikarenakan kecintaannya pada tas serta keinginan untuk menggali konten lokal Indonesia dalam memproduksinya. Pada produk-produk tas Rorokenes, 85% menggunakan bahan baku lokal dengan mengedepankan prinsip etis dan meminimalisir limbah (zero waste), Tidak hanya itu, Rorokenes juga memberlakukan persamaan gender di dalam internal perusahaan maupun kepada konsumen. Maka dari itu, prinsip sustainability sangat melekat dalam model bisnis Rorokenes.

Rorokenes menjual berbagai produk kerajinan tas, di antaranya yang utama adalah Tas Kulit, Tas Kulit Anyaman, Tas Anyaman Tenun, dan Tas Daur Ulang Kayu. Konsumen yang membeli kebanyakan adalah wanita dengan umur 28-45 tahun. Saat ini usahanya mampu mempekerjakan sekitar 11 orang, yang hampir semuanya direkrut dari Semarang karena memprioritaskan masyarakat lokal.


Apa Saja sih Prinsip Sustainability yang Dijalankan?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Rorokenes mengedepankan prinsip sustainability sebagai nilai keunggulan. Konsep sustainability terdiri dari aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Segala aspek ini dikomunikasikan kepada calon pembeli/importir dengan baik, terutama melalui company profile. Yuk kita bahas masing-masing aspek tersebut.

Pengembangan Ekonomi

Rorokenes percaya bahwa kinerja ekonominya tidak hanya berdampak pada keberlangsungan bisnis tapi juga meningkatkan taraf hidup karyawannya. Kinerja ekonomi ditunjukkan dengan meningkatnya omset dan profit tiap tahun secara bertahap.

Rorokenes juga memberikan dampak ekonomi secara tidak langsung dengan memberdayakan masyarakat sekitar sejak awal usaha. Ini ditunjukkan dengan merekrut karyawan dari komunitas lokal. Yang paling penting adalah dengan adanya program kontribusi terhadap Pundi Perempuan, organisasi yang memberikan advokasi terhadap KDRT dan penyetaraan gender. Setiap pembelian akan disisihkan untuk program ini. Bahkan di setiap pembelian produk Rorokenes, akan diberikan flyer mengenai edukasi bagaimana mencari bantuan terhadap KDRT.

Selain itu, Rorokenes juga memberikan berbagai pelatihan soft skill kepada masyarakat sekitar. Terdapat tiga kelompok komunitas yang didampingi oleh Rorokenes sebagai tenaga kerja produksi. Pertama, terdapat kelompok wanita yang memproduksi produk tenun. Kelompok kedua adalah wanita yang memproduksi produk anyaman. Lalu, Rorokenes jugamendampingi komunitas bernama “Kenduri Inklusi” yang berisikan wanita disabilitas. Disini, para anggota komunitas dilatih soft skill nya dan diberikan kesempatan untuk mengikuti pameran.

Dalam hal praktek pengadaan barang, Rorokenes memiliki kebijakan untuk memilih pemasok dan bahan baku hanya dari wilayah lokal. Contohnya, bahan baku kulit diambil hanya dari pemasok di pulau Jawa. Rorokenes hanya mengimpor bahan baku dari luar negeri yang ketersediaannya sangat terbatas di Indonesia, di antaranya adalah aksesoris tas dan mesin.


Pelestarian Lingkungan

Untuk terus berkomitmen melestarikan lingkungan, Rorokenes melakukan kebijakan “zero waste” untuk mengurangi limbah produksi. Total maksimal limbah yang dihasilkan produksi adalah hanya 3%. Sisanya dilakukan daur ulang, sehingga hampir tidak ada limbah produksi

Daur ulang limbah menjadi prioritas dalam model bisnis. Salah satu contohnya adalah dengan mengubah limbah kulit menjadi produk lainnya seperti keyholder, yang dapat dijual kembali dan jadi bonus tambahan untuk karyawan. Bahkan, sisa-sisa kayu dari industri furniture diolah menjadi produk Tas Daur Ulang Kayu.

Selain itu, Rorokenes selalu melakukan pemilihan dan evaluasi yang ketat terhadap pemasok bahan bakunya. Untuk pemasok bahan kulit, diwajibkan untuk memiliki ISO atau SNI dan manajemen limbah yang baik dikarenakan limbah kulit yang berbahaya bagi lingkungan. Sedangkan untuk pemasok bahan kayu, diwajibkan untuk memiliki SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu) dan sudah dilakukan proses Kiln Dry sehingga produknya tahan lama.

Pemberdayaan Sosial

Rorokenes selalu berkomitmen untuk mensejahterakan karyawannya. Ini dilakukan dengan berbagai remunerasi yang tidak hanya terbatas pada gaji, tetapi juga pada cuti tahunan, cuti menstruasi pada wanita, tunjangan makanan, transportasi, beras, sampai tunjangan hidup. Bahkan, Rorokenes memastikan kesetaraan gender di lingkungan usaha. Contohnya, tidak ada kesenjangan gender dalam masalah remunerasi serta tidak boleh adanya pelecehan gender. Bahkan, Rorokenes juga memberikan cuti dan bonus pada karyawan pria ketika istrinya melahirkan.

Di samping remunerasi, Rorokenes secara 6 bulan sekali memberikan pelatihan kepada karyawan. Pelatihan ini berupa edukasi produksi kulit sampai keterampilan manajerial. Sehingga, karyawannya diharapkan dapat meningkatkan kapasitas bagi karirnya.

Lalu, Rorokenes memastikan keselamatan kerja karyawannya dengan penyediaan fasilitas K3 dan penanggungan segala biaya kesehatan karyawan. Tidak hanya itu, tidak ada karyawan di bawah 18 tahun, yang membuktikan bahwa Rorokenes tidak mentoleransi pemaksaan kerja anak-anak.

Rorokenes juga selalu memprioritaskan konsumennya. Mereka terus menjaga rahasia konsumen, khususnya dalam hal permintaan custom pembuatan produk. Untuk memastikan kepuasan konsumen, Rorokenes juga memberikan garansi pada tahun pertama pembelian.