Melihat Potensi Ekspor bagi UKM Indonesia

Artikel ยท Ekspor Impor
Lama Baca : 6 Menit

Banyak UKM yang bingung mengenai apa saja produk yang memiliki nilai keunggulan dan berpotensi untuk diekspor. Lalu, banyak UKM juga bingung mengenai negara tujuan mana sajakah yang berpotensi untuk bisa melakukan ekspor. Bahkan, banyak UKM khawatir apakah mereka memiliki potensi yang sama kuatnya dengan Usaha Besar untuk melakukan ekspor. Apalagi, kontribusi ekspor UKM kita masih sedikit sekali sekitar 14%.

Potensi UKM untuk ekspor sebenarnya cukup besar lho. Akan tetapi, banyak UKM yang tidak memahami bagaimana melihat potensi ekspor. Salah satunya yang bisa kita lakukan adalah dengan cara melihat pola transaksi perdagangan ekspor yang dilakukan oleh Indonesia.

Bagaimana cara melihat potensi tersebut? Mari kita bahas caranya di artikel ini yang meliputi melihat transaksi ekspor per kategori produk, melihat transaksi ekspor per negara tujuan, serta melihat potensi yang belum terealisasikan dari segi produk maupun negara.

Melihat Transaksi Ekspor per Kategori Produk

Kategori Produk Ekspor Non-Migas Terbesar di Indonesia, 2014--2014. Sumber: Trade Map โ€“ International Trade Center. Data dioleh oleh Penulis.

Pertama-tama, kita perlu melihat potensi ekspor pada suatu produk berdasarkan data transaksi ekspor sebelumnya. Berdasarkan transaksi ekspor non-migas (minyak & gas) pada tahun 2014-2018, Lemak dan Minyak Hewani & Nabati menempati jumlah ekspor terbesar dari Indonesia secara signifikan yaitu mencapai proporsi 16.1% dari total ekspor non-migas. Kondisi ini wajar, karena kita merupakan salah satu negara agraris terbesar, sehingga kita memiliki sumber daya yang berlimpah. Sedangkan permintaan minyak alternatif dari nabati tinggi sekali di pasar dunia. Sayangnya, masih sedikit UKM yang mengambil peluang ini dibandingkan Usaha Besar.

Selain itu, berikutnya transaksi ekspor terbesar juga dialami oleh Peralatan Elektronik (7.0%), Karet dan Artikelnya (5.2%), Kendaraan selain Kereta (4.5%), Mesin-Mesin (4.5%) serta lainnya yang di bawah proporsi tersebut. Oleh karena itu, usaha manufaktur masih jadi prioritas utama untuk pasar ekspor Indonesia. Namun sayangnya, Usaha Besar masih mendominasi industri manufaktur ini dibandingkan UKM. Jika UKM bisa lebih mengambil peluang bisnis manufaktur ini, maka dapat dipastikan bahwa UKM mampu bersaing dalam pasar ekspor.

Jadi dari kategori-kategori produk andalan ekspor di atas, kira-kira UKM bisa ambil peluang paling besar dimana saja?

Contohnya:

  1. Alas Kaki: rata-rata ekspor per tahunnya senilai 4,6 miliar USD.
  2. Pakaian dan Aksesoris: rata-rata ekspor per tahunnya senilai 4,1 miliar USD.

Rata-rata nilai total ekspor untuk kedua kategori di atas = 8,7 miliar USD (sekitar 117 triliun Rupiah)

Andaikan UKM mau targetkan partisipasi ekspor 20% saja untuk Alas Kaki dan Pakaian & Aksesoris, maka transaksi ekspor yang bisa diraih UKM per tahun sekitar 1,62 miliar USD (setara 22,6 triliun Rupiah). Jika setidaknya ada 5000 UKM berkonsolidasi untuk tangkap peluang ini, lumayan loh masing-masing bisa nikmati nilai penjualan ekspor sekitar Rp 12 miliar per tahun!

Melihat Transaksi Ekspor per Negara Tujuan

Negara Tujuan Ekspor Indonesia, 2014-2018 (Unit dalam 1,000 USD). Sumber: Trade Map โ€“ International Trade Center (ITC). Data dioleh oleh Penulis.

Selanjutnya, kita perlu mengecek ke negara mana sajakah ekspor Indonesia dilakukan selama ini. Berdasarkan data ekspor tahun 2014-2018, China merupakan negara tujuan terbesar ekspor Indonesia dengan nilai ekspor senilai 99 miliar USD (sekitar 1,352 triliun Rupiah). Hal ini wajar, dikarenakan China merupakan negara yang memiliki penduduk terbesar di dunia. Selain itu, kita memiliki perjanjian perdagangan bebas melalui ASEAN-China FTA.

Di posisi terbesar lainnya juga menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadikan negara dapat berpotensi sebagai tujuan ekspor Indonesia.

  • Negara-negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar berpotensi untuk diekspor, seperti China, Amerika Serikat, India, dan Jepang. Hal ini karena tingginya tingkat konsumsi pada negara tersebut sehingga permintaan ekspor juga tinggi.
  • Negara-negara yang tergabung dalam regional ASEAN, seperti Singapura, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Ini dikarenakan negara-negara tersebut memiliki jarak yang dekat serta akses pasar yang lebih mudah.
  • Hubungan sejarah juga memiliki peranan penting dalam hubungan ekspor, seperti Belanda dan Jepang. Bahkan, Belanda merupakan negara tujuan ekspor terbesar di Eropa meskipun jumlah penduduknya sedikit.

Dari data ini, ditemukan juga bahwa Indonesia masih belum sanggup untuk menjajaki pasar negara-negara maju secara optimal seperti halnya Jerman, Inggris, Australia, dan lainnya. Apalagi peluang-peluang tersebut diambil oleh negara-negara tetangga kita yang mengimpor produk Indonesia untuk diekspor kembali ke negara-negara maju.

Melihat Potensi Ekspor yang Belum Terealisasikan per Produk


Potensi Ekspor Indonesia dalam Kategori Produk. Sumber: ITC Export Potential Map. Data diproses oleh Penulis Jan-20.

Selanjutnya, kita juga harus melihat potensi produk yang masih banyak ruang untuk diekspor. Dari gambar di atas (diambil dari ITC Export Potential Map), terlihat bahwa Lemak dan Minyak Nabati, Kimia, dan Mesin-Mesin merupakan produk-produk yang memiliki potensi ekspor terbesar. Disini Lemak dan Minyak Nabati meskipun sudah 54% pasar ekspornya yang terealisasi, namun memiliki nilai pasar ekspor terbesar yang belum terealisasi sebesar 16.8 miliar USD (sekitar 229 triliun Rupiah). Di sisi lain, Mesin-Mesin hanya 41% potensi ekspornya yang sudah terealisasi, dengan menyisakan potensi ekspor sebesar 6.8 miliar USD (sekitar 92 triliun Rupiah). Ini menunjukkan bahwa industri manufaktur Indonesia, khususnya pada ketiga produk di atas, cukup memiliki nilai keunggulan dari segi sumber daya maupun biaya. Sehingga, bagi UKM yang memiliki produk-produk ini bisa segera rencanakan ekspor.

Dari data di atas, kita juga dapat melihat bahwa produk makanan dan tekstil yang banyak dimiliki oleh pelaku UKM Indonesia, juga memiliki potensi besar untuk pasar ekspor. Contohnya dalam tekstil, Pakaian (Apparel) masih memiliki sekitar 39% potensi ekspor yang belum terealisasi atau senilai 4 milyar USD (sekitar 54 triliun Rupiah). Lalu, Alas Kaki pun pun juga masih terdapat 33% potensi ekspor yang senilai 2.2 miliar USD (sekitar 30 triliun Rupiah). Sementara itu, Produk-Produk Makanan (Other Food Products) memiliki 52% potensi ekspor atau senilai 2.5 milyar USD (sekitar 34 triliun Rupiah). Bahkan, produk Cokelat, Kopi, dan Ikan juga merupakan produk yang masih memiliki potensi ekspor besar yang belum dilakukan.

Dengan melihat data ini, kita melihat bahwa tidak hanya Usaha Besar yang memiliki potensi besar untuk ekspor, tapi UKM pun juga memiliki pintu yang lebar untuk ekspor dengan memanfaatkan keunggulan produk-produk makanan dan tekstil di Indonesia.


Potensi Ekspor Indonesia untuk Kategori Produk Pakaian (Apparel) dan Produk Makanan Lainnya. Sumber: ITC Export Potential Map. Data diproses oleh Penulis Jan-20.

Kemudian, kita juga perlu melihat potensi ekspor lebih dalam ke spesifik produk. Contohnya pada Pakaian, ternyata pakaian olahraga (Jersey) memiliki potensi ekspor yang besar, khususnya yang terbuat dari katun, dengan nilai potensi ekspor yang belum terealisasi sebesar 322 juta USD (sekitar 4.5 triliun Rupiah). Tidak hanya itu, kemeja dan rok wanita serta kaos pria juga memiliki potensi ekspor yang besar untuk dilakukan. Saat ini sudah banyak perusahaan asing di bidang Pakaian yang membuka pabrik di Indonesia. Contohnya perusahan Nike yang salah satu pusat produksi jerseynya terdapat di Indonesia. Itu artinya, kapasitas produksi kita sudah mampu bersaing dengan pasar ekspor, tinggal bagaimana UKM mau mengambil peluangnya.

Selain itu, jika kita melihat potensi ekspor pada sektor makanan, produk lemak & minyak yang bisa dimakan seperti Margarin merupakan produk yang memiliki potensi ekspor terbesar dengan 40% potensi yang belum dilakukan senilai 295 juta USD (sekitar 4 triliun Rupiah). Produk-produk makanan berpotensi lainnya adalah bahan masak, waffles & waffers, ekstrak kopi, dan biskuit yang hampir semuanya memiliki lebih dari 50% potensi ekspor yang belum direalisasikan. Jadi, besar sekali sebetulnya peluang UKM untuk mengambil peluang produk-produk makanan ini. Apalagi dengan sumber daya makanan kita yang berlimpah dan bervariasi.

Selanjutnya, kita perlu mengecek ke negara mana sajakah ekspor Indonesia dilakukan selama ini. Berdasarkan data ekspor tahun 2014-2018, China merupakan negara tujuan terbesar ekspor Indonesia dengan nilai ekspor senilai 99 miliar USD (sekitar 1,352 triliun Rupiah). Hal ini wajar, dikarenakan China merupakan negara yang memiliki penduduk terbesar di dunia. Selain itu, kita memiliki perjanjian perdagangan bebas melalui ASEAN-China FTA.

Melihat Potensi yang Belum Terealisasikan per Negara Tujuan


Potensi Ekspor Indonesia untuk Tiap Negara. Sumber: ITC Export Potential Map. Data diproses oleh Penulis Jan-20.

Selain melihat potensi produk, kita juga harus melihat negara mana sajakah yang masih memiliki ruang ekspor yang besar untuk dilakukan ekspor. Dari gambar di atas (diambil dari ITC Export Potential Map), kita dapat melihat bahwa China, Amerika Serikat, dan India merupakan negara-negara yang memiliki total potensi ekspor terbesar. China masih memiliki sekitar 55% potensi pasar yang belum dijajaki senilai 15.7 miliar USD (sekitar 214 triliun Rupiah. Lalu, sama halnya terjadi di India yang masih memiliki potensi pasar sebesar 50%, senilai 7.1 miliar USD (sekitar 96 triliun Rupiah). Amerika pun juga masih terdapat 7.7 miliar USD yang belum dicapai ekspornya.

Hal lainnya yang bisa kita tangkap, ternyata terdapat potensi ekspor yang besar di negara-negara tetangga kita yaitu Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Filipina yang semuanya memiliki potensi ekspor belum terjamah di atas 40% yang rata-ratanya sekitar di atas 3 milyar USD (sekitar 40 triliun Rupiah). Selain itu, kita juga dapat melihat bahwa negara-negara maju di Eropa seperti Jerman, Inggris, Belanda, Perancis sebetulnya masih memiliki potensi pasar yang cukup besar yang belum direalisasikan. Contohnya, Jerman yang hanya 60% potensi ekspornya yang sudah direalisasikan, padahal masih terdapat sekitar 2.5 milyar USD (sekitar 34 triliun Rupiah) potensi ekspor.

Data ini mengindikasikan bahwa langkah pertama UKM untuk ekspor adalah menargetkan negara-negara tetangga kita di ASEAN karena kemudahan akses pasar yang besar. Jika selanjutnya kemampuan ekspor UKM sudah mumpuni dan makin banyak perjanjian perdagangan bebas yang dilakukan, maka bisa ditargetkan ke negara-negara maju lainnya.

Begitulah pembahasan kita kali ini untuk bagaimana UKM dapat melihat potensi berdasarkan pola perdagangan. Banyak sumber data yang bisa kita jadikan acuan untuk menganalisanya. Salah satu sumber data yang cukup lengkap adalah ITC Trade Map dan ITC Potential Map yang disediakan oleh International Trade Center (ITC), yang juga dipakai sebagai sumber data dalam artikel ini. Untuk sumber data lainnya, kita juga dapat melihat data Ekspor-Impor yang disediakan oleh Badan Pusat Statistika atau dari Kementerian Perdagangan. Disini perlu dilakukan oleh sahabat UKM adalah dengan melihat transaksi perdagangan sebelumnya serta melihat potensi perdagangan yang belum terealisasi baik itu dari segi produk maupun negara.

Intinya, setelah kita dapat melihat potensi dari pola perdagangan, ternyata besar lho potensi bagi UKM untuk melakukan ekspor. Meskipun kontribusi kita untuk ekspor masih kecil, namun UKM mampu meningkatkan kontribusi ekspornya jika selalu mampu membaca keunggulan produk dan potensi pasar. Jadi, tidak hanya Usaha Besar yang bisa melakukan ekspor. UKM pasti bisa naik kelas dengan melakukan ekspor dikarenakan besarnya potensi yang sebetulnya ada.

Jika para pelaku UKM ingin mengetahui lebih lanjut mengenai potensi secara detail untuk produk tertentu, jangan lewatkan artikel-artikel kami berikutnya yang akan membahas keunggulan dan potensi beberapa produk potensial dari Indonesia.

Banu Rinaldi, Research Officer UKM Indonesia, MBA in SME Development Universitas Leipzig - Jerman.

Referensi:

International Trade Center: Trade Map

International Trade Center: Export Potential Map

Penulis: Banu Rinaldi; Editor: Dewi Meisari & Hilda Fachrizah
2020-06-13 21:31:47
Konten Terkait

Ekspor Impor

Kesuksesan Ekspor Hitara Black Garlic Menciptakan Nilai Keunggulan pada Bawang

Sahabat Wirausaha merasa kurang yakin untuk melakukan ekspor? Mengapa belum yakin? Nah pada artikel ini kita akan coba menceritakan pengalaman sukses ekspor dari Hitara Black Garlic, yang merupakan salah satu member terdaftar di ukmindonesia.id, yang mampu menciptakan nilai keunggulan produk ekspor pada bawang

2020-07-09 23:08:16

Ekspor Impor

Hot Chile: Besarnya Potensi Ekspor di Chile dengan IC-CEPA

Salah satu perjanjian perdagangan yang sudah berjalan adalah Indonesia โ€“ Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement. Dengan adanya perjanjian ini, Chile saat ini sebaiknya mulai menjadi prioritas untuk negara tujuan ekspor.

2020-06-26 13:56:54

Ekspor Impor

Keberhasilan Ekspor Rorokenes Menggunakan Prinsip Sustainability

Kali ini kita akan belajar dari Rorokenes yang sudah memanfaatkan komunikasi sustainability ini dalam menembus pasar ekspor. Mbak Syanaz, sebagai pendiri dan pemilik Rorokenes, akan sharing mengenai pengalamannya kepada para sahabat UKM.

2020-06-23 16:59:58

Ekspor Impor

Potensi Ekspor Produk Kelapa

Tahukah sahabat UKM bahwa Indonesia adalah produsen kelapa terbesar di dunia? Sayangnya, dengan keunggulan volume produksi kelapa, Indonesia masih kalah dengan negara-negara lain dalam mengekspor kelapa, terutama Filipina. Banyak yang tidak menyadari bahwa Indonesia memiliki kekuatan ekspor dari kelapa ini. Apalagi, banyak juga yang tidak mengetahui bahwa pohon kelapa dapat diolah semua bagiannya. Yuk kita bahas tentang potensi kelapa Indonesia dalam pasar ekspor.

2020-06-16 19:37:12