Mau Berhutang untuk Bertahan? Pahami dulu Cara Mengelolanya

Artikel · Kamus Bisnis
Lama Baca : 2 Menit

Masih dalam topik mengenai pembiayaan dan pinjaman. Banyak pelaku UKM yang saat ini membutuhkan dana untuk bisa bertahan dari krisis pandemi COVID-19. Akan tetapi, banyak yang kesulitan untuk membayarnya kelak. Apakah berhutang itu baik untuk bisnis? Bagaimana mengelolanya? Yuk kita bahas.

Apa itu Hutang?

Hutang, atau di akuntansi disebut Liabilities, adalah total dana yang dipinjam atau harus dibayar kepada pihak eksternal kedepannya, terkait operasional dan permodalan. Segala operasional yang dijalankan dan segala Aset yang dibeli perusahaan bisa didanai dari Hutang.

Hutang tidak hanya pinjaman namun terdiri dari banyak hal seperti hutang dagang, hutang gaji, tagihan sewa bulanan, tagihan listrik. Selain itu, sejumlah uang yang sudah dibayarkan oleh pelanggan namun sebenarnya produk/jasa belum dikirimkan ke pelanggan, maka ini juga dicatat sebagai Hutang. Bahkan, pembayaran yang bisa saja terjadi di kedepannya, seperti jasa garansi produk, juga harus dialokasikan di Hutang.

Jadi, ingat Hutang itu bukan hanya pinjaman yah. Kita harus memonitor semuanya untuk bisa membayar semuanya kelak.

Apakah memiliki Hutang itu baik bagi bisnis?

Meskipun nilai Hutang yang besar bisa diartikan buruk bagi bisnis. Namun, Hutang dibutuhkan untuk menjalankan operasional bisnis dan membeli Aset yang diperlukan dalam bisnis.

Perlu diketahui bahwa besar total Hutang memiliki pengaruh negatif pada Skor Kredit atau kelayakan kredit. Contohnya, jika perusahaan memiliki nilai Hutang yang besar, maka tingkat bunga yang dikenakan adalah lebih tinggi karena untuk menutupi risiko gagal bayar.

Jangan lupa juga bahwa dana Hutang harus dialokasikan untuk hal-hal produktif usaha, jangan sampe untuk menutupi kebutuhan pribadi pemilik.

Bagaimana mengelola Hutang?

Pada Neraca Keuangan, Hutang dipisahkan menjadi dua kategori: Hutang Lancar (Current Liabilities) dan Hutang Jangka Panjang (Long Term Liabilities). Total Hutang dihitung dari jumlah kedua kategori tersebut. Dibawah ini penjelasan detilnya.

  • Hutang Lancar: Hutang yang jatuh temponya dibawah satu tahun. Contohnya adalah Hutang Gaji, Hutang Sewa, Hutang Dagang, dan Pinjaman Jangka Pendek. Dikarenakan hutang ini harus dibayar dalam jangka waktu pendek, maka pengelolaan Kas penting untuk pembayarannya.
  • Hutang Jangka Panjang: Hutang yang jatuh temponya diatas satu tahun. Contohnya adalah Pinjaman Jangka Panjang dari bank atau lembaga penyalur lainnya. Dikarenakan hutang ini dibayarnya dalam jangka waktu lama, maka penting dimonitor projeksi penjualan kedepannya untuk pembayarannya.

Bagaimana menganalisa sehat atau tidaknya Hutang?

Analisa Hutang bisa dilakukan dengan membandingkan dengan nilai Hutang pada pesaing di industri yang sama. Jadi, jika nilai Hutang yang besar juga dimiliki oleh pesaing lain berarti itu hal yang normal. Namun, terdapat juga berbagai rasio yang membandingkan nilai Hutang dengan nilai lain untuk menganalisa sehat atau tidaknya usaha.

Salah satu rasionya adalah Debt to Equity Ratio (DER), yang menunjukkan kemampuan Ekuitas untuk membayar semua Hutang yang dimiliki. Rasio lainnya adalah Debt to Asset Ratio (DAR), yang menunjukkan berapa proporsi Aset yang dibiayai oleh hutang. Berikut di bawah ini rumus untuk keduanya.

Makin besar nilai kedua rasio tersebut, maka perusahaan harus lebih berhati-hati untuk menambah nilai total Hutangnya. Pertimbangkan pula alternatif pembiyaaan selain Hutang seperti mencari investor dan Crowdfunding.

Nah begitulah pembahasan kita kali ini tentang berhutang. Jadi, intinya sahabat UKM tidak perlu takut berhutang untuk bangkit dari krisis pandemi ini. Asalkan memiliki tujuan yang jelas dalam penggunaannya. Serta kelola dan monitor terus nilai Hutang yang dimiliki, untuk bisa selalu membayarnya. Karena pertanggungjawaban kita dalam membayar hutang akan terus sampai di akhirat.

Banu Rinaldi, Research Officer UKM Indonesia, MBA in SME Development Universitas Leipzig - Jerman

Referensi: Investopedia

Gambar diambil dari dreamstime.com

Banu Rinaldi
2020-05-20 18:18:52

Konten Terkait

Kamus Bisnis

Sebelum Meminjam, Yuk Pahami Amortisasi Pinjaman

Pandemi COVID-19 diharapkan akan segera berakhir. Dengan kondisi ini, banyak pelaku UKM yang ingin melakukan pinjaman dana dari bank, untuk segera bangkit. Akan tetapi, seringkali pelaku UKM tidak mengerti ketika Bank memberikan perhitungan yang menggambarkan rincian angsuran pembayaran hingga pinjaman lunas. Bagaimana sebenarnya cara membaca dan menghitungnya? Ini yang dinamakan dengan Amortisasi Pinjaman.

2020-05-18 19:36:25

Akses Pasar

Ajukan Kredit Usaha Rakyat untuk Kembangkan Usaha?

Sahabat UKM, Pernahkah mendengar “Kredit Usaha Rakyat”? Pada tahun 2020, total plafon KUR ditingkatkan menjadi Rp 190 Triliun (atau sesuai dengan ketersediaan anggaran di APBN). Plafon tahunan KUR ini akan terus ditingkatkan secara bertahap sampai dengan Rp 325 Triliun pada tahun 2024. Jadi KUR merupakan salah satu akses modal yang penting untuk diajukan sahabat UKM. Yuk kita bahas disini.

2020-07-03 17:56:50

Ulasan - Bisnis Umum

Kemitraan, Strategi Bisnis UMKM dalam Meningkatkan Omzet Penjualan

Melihat pentingnya sebuah bisnis di jalankan dengan strategi yang matang. Sudah pasti hasilnya akan menjadi maksimal. Namun sayang besarnya potensi yang dimiliki pelaku bisnis UMKM masih menghadapi beberapa kendala. Salah satunya adalah masalah pengembangan jaringan usaha, pemasaran dan kemitraan. Oleh karena itu, memang dibutuhkan adanya sinergi yang baik dan terarah tidak saja dari pemerintah terkait tapi juga dari pelaku bisnis. Sehingga dengan terjadinya sinergi bisnis yang baik dan benar, maka sudah pasti peningkatan omzet dari pebisnis UMKM bisa lebih mudah untuk di tingkatkan.

2020-01-02 15:01:17

Memaksimalkan Keuntungan dari Sisi Pajak Sebagai Entrepreneur

Seminar

Gratis

Hai Teman-teman Entrepreneur :)Sebagai seorang entrepreneur ada banyak keuntungan yang bisa kamu dapatkan dari sisi pajak bila kamu paham cara dan bagaimana memanfaatkannya.

Menara by KibarJakarta Pusat
2019-04-05