Reinvestasi di Bisnis Sosial

Artikel · Kewirausahaan Sosial
Lama Baca : 2 Menit

Dalam pandangan Muhammad Yunus, sang penerima Nobel Perdamaian tahun 2006 karena Grameen Bank-nya, salah satu ciri penting dari bisnis sosial adalah reinvestasi seluruh keuntungan yang diperoleh. Artinya, sebuah bisnis sosial tidak boleh menyisakan keuntungan untuk dibagikan kepada pemilik modalnya. Kalau pemilik modal ingin mendapatkan penghasilan dari bisnis sosialnya, ia bisa bekerja di situ dan mendapatkan gaji, seperti pekerja lainnya.

Gaji para pebisnis sosial sendiri tidaklah mesti kecil. Jeffrey Hollender, pendiri Seventh Generation mendapatkan gajinya sebagai CEO yang tidak kalah dibandingkan dengan CEO kebanyakan perusahaan multinasional. Yunus sendiri juga mendapatkan gaji besar sebagai pimpinan grup Grameen, yang Grameen Bank hanya salah satu anak perusahaannya. Namun, yang menjadi ciri pentingnya adalah keadilan di antara para pekerja. Hollender, misalnya, menetapkan rasio gaji tertinggi versus terendah di perusahaannya adalah 7:1, jauh lebih merata dibandingkan kebanyakan perusahaan yang perbandingannya bisa mencapai ratusan atau bahkan ribuan kali.

Tetapi, pendirian Yunus soal ketiadaan pembagian keuntungan—biasa disebut dividen nol—itu tidak menjadi arus utama dalam pemikiran mengenai bisnis sosial. Sebagian besar pakar berpendirian bahwa sudah seharusnya bisnis sosial memang tidak memberi proporsi keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bisnis konvensional. Setidaknya, menurut para pakar itu, lebih dari separuh dari keuntungan bisnis sosial perlu diinvestasikan kembali ke dalam perusahaan. Mengapa demikian?

Alasan pertama adalah pembatasan keuntungan merupakan cara untuk mengikis ketimpangan yang selama in terjadi di antara pemilik modal dengan masyarakat kebanyakan. Bisnis sosial memiliki semangat untuk mendatangkan keadilan, dan itu hanya mungkin terjadi apabila pemilik modal secara sukarela membatasi peningkatan kekayaannya pada level yang sama dengan mereka yang bekerja dengan tenaga dan pikiran saja. Kalau perlu, lebih rendah lagi.

Data yang dikemukakan oleh Thomas Piketty lewat Capital in the 21st Century (2014) jelas menunjukkan bahwa para pemilik modal secara rata-rata mendapatkan peningkatan kesejahteraan 4-5% per tahun, sementara rakyat kebanyakan hanya bisa menikmati pertumbuhan ekonomi 1-1,5% per tahun. Ini berarti bahwa para pemilik modal tumbuh kesejahteraannya antara 2,7 hingga 5 kali lipat orang kebanyakan. Karenanya, berdasarkan data Piketty, untuk mengikis kesenjangan, para pemilik modal sebetulnya bisa membatasi untuk mengambil antara 20-37% saja dari keuntungan yang diperolehnya. Sementara, sisanya diinvestasikan kembali.

Data di atas adalah data skala global. Sebaiknya para pemilik modal perusahaan sosial mengetahui secara persis kondisi perbandingan tersebut di tempatnya berbisnis. Namun, hal ini jarang bisa dengan mudah diperoleh.Pada negara-negara dengan ketimpangan pendapatan yang tinggi—ditandai dengan nilai Gini Ratio yang besar—sudah seharusnya para pebisnis sosial mengambil proporsi keuntungan yang lebih kecil, agar ketimpangan bisa dikikis lebih cepat.

Pemanfaatan keuntungan sebagai sumberdaya untuk mencapai tujuan adalah alasan kedua.Penting diingat bahwa pendirian bisnis sosial adalah untuk memecahkan masalah ekonomi-sosial-lingkungan tertentu, terutama yang dihadapi oleh kelompok-kelompok rentan dalam masyarakat. Jadi, bukanlah untuk memerkaya pemilik modalnya, berbeda dengan kebanyakan tujuan bisnis konvensional.

Oleh karena itu, posisi keuntungan sangatlah berbeda di bisnis sosial. Ia menjadi salah satu sumberdaya yang bisa dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Reinvestasipun menjadi suatu keniscayaan. Semakin besar keuntungan yang diperoleh—karena keahlian manajemen para pengelola bisnis sosial—dan semakin besar proporsi keuntungan yang direinvestasi oleh pemilik modalnya, semakin cepat pula bisnis sosial mencapai tujuan pendiriannya.

Dampak reinvestasi itu sendiri sangat jelas. Kecepatan pertumbuhan bisnis sosial dicatat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka pertumbuhan bisnis konvensional. Kalau Piketty mencatat angka pertumbuhan 4-5% di bisnis konvensional, Eggers dan MacMillan (2013) mencatat angka 15,2% untuk bisnis sosial. Pembatasan keuntungan telah mendatangkan pertumbuhan yang lebih tinggi.Dampak berikutnya adalah peningkatan jumlah penerima manfaat yang sangat pesat.Begitu reinvestasi dalam proporsi yang besar dilakukan, bisnis sosial bisa menjangkau lebih banyak lagi orang.

Karena pentingnya reinvestasi sebagai karakteristik bisnis sosial, maka banyak pakar yang menyarankan untuk menyepakatinya di awal, bahkan memasukkannya ke dalam akta pendirian perusahaan. Di WISESA, kami menyepakati untuk mengambil maksimal 33,3% dari keuntungan yang kami hasilkan, dan melakukan reinvestasi minimal 66,7%.

Ini mungkin dipandang tak masuk akal oleh kebanyakan pebisnis konvensional. Namun melihat data Eggers dan MacMillan, kami percaya bahwa kinerja finansial kami akan lebih cemerlang dibandingkan rerata bisnis konvensional. Lagipula, tujuan utama kami adalah mendatangkan senyum di sebanyak mungkin wajah petani di Indonesia. Jadi, bahkan sangat mungkin bagi kami untuk melakukan proporsi reinvestasi di atas apa yang kami telah sepakati itu.


Sumber:

Artikel ini pernah dimuat di surat kabar KONTAN, pada tanggal 1 Oktober 2015.

Penulis: Jalal dan Wahyu Aris Darmono (Pendiri dan Komisaris - Perusahaan Sosial WISESA)

Jalal dan Wahyu Aris Darmono
2019-01-06 16:46:07
Konten Terkait

Kewirausahaan Sosial

Transformasi ke Arah Bisnis Sosial

Ada banyak pertanyaan yang kerap diajukan terkait bisnis sosial. Salah satu pertanyaan paling menarik adalah bagaimana mengubah perusahaan yang telah terlebih dahulu eksis dengan model bisnis komersial menjadi bisnis sosial.

2019-01-06 17:44:27

Kewirausahaan Sosial

Memperkenalkan Bisnis Sosial

Kita sudah cukup kerap mendengar istilah bisnis sosial, perusahaan sosial dan wirausaha sosial dalam berbagai kesempatan. Namun, tampaknya pengertian yang disampaikan itu sangatlah beragam.

2019-01-06 12:38:29

Kewirausahaan Sosial

Dari Mana Datangnya Ide Bisnis Sosial?

Salah satu pertanyaan paling menarik dalam dunia bisnis sosial adalah dari mana datangnya ide untuk membuat dan menjalankannya. Ada banyak cara untuk menjawab pertanyaan tersebut, dan sebagian besar disandarkan pada pengalaman-pengalaman para pebisnis sosial sendiri.

2019-01-06 17:16:31

Kewirausahaan Sosial

Mekanisme Pembiayaan Bisnis Sosial

Sumber pembiayaan untuk perusahaan sosial—sama dengan pembiayaan perusahaan komersial—adalah pemerintah, swasta, organisasi masyarakat sipil, dan individu. Pertanyaannya kemudian melalui mekanisme apa saja pembiayaan itu bisa diwujudkan.

2019-01-06 17:29:13